You are currently browsing the monthly archive for January, 2007.
Kulihat mereka bergerombol di pinggir jalan dengan stelan dinas rapi, berkacamata gelap, berambut klimis kadang bertopi, sepatu berkilau, tak lupa menyandang besi dengan gagang berpelatuk di pinggangnya. Kompliiit…. plit cukup meyakinkan atau bahkan menakutkan bagi sebagian pemberi upeti, penebus dosa dan kesalahan. Terlihat tawa penuh wibawa, ketika supir angkutan yg kunaiki mengangguk pada mereka penuh rasa hormat.
Kulihat dia duduk menyandar pada tembok dengan pakaian lusuhnya, dibalut selendang tuapenutup dada, tak lupa penutup kepala hingga hampir menutup mata, kaki telanjang menginjak bumi dan sebuah piring plastik di tangan kiri setia menemani.
Pagi ini nampak jelas perbedaan mereka dan dia. Mereka bisa mencari kesalahan sebagai sebuah alasan unuk mengemis dengan justifikasi aturan yang bisa di tebus oleh uang. Sedangkan dia dalam sudut matanya yang tajam, seakan menyapa "Aku sedang berjuang…dengan caraku sendiri." "Aku melawan ketidakadilan dengan menawarkan piring plastik kosong untuk alas makanku nanti siang, itu pun bila tidak di sita oleh preman yang nongkrong di belokan". "Biarlah tak mengapa, karena selama hidupku aku yakin pada Sang Maha Pemberi".
Hidup begitu indah di mata dia Sang Pengemis.
Tapi kulihat mereka dengan sangat MUAK!
Hidup memang penuh kontradiksi kawan…
tempat-tempat razia kendaraan bermotor di bandung
1. jl setiabudhi atas depan eldorado
2. jl setiabudhi atas depan kantor polres cidadap
3. jl setiabudhi depan borma (biasanya malam)
4. jl setiabudhi pertigaan cipaganti dan depan ayam suharti
5. jl sukajadi pertigaan karang setra
6. jl sukajadi depan kantro polisi bandung barat
7. jl terusan pasteur deket pom bensin
8. daerah deket setra sari mall
9. jl gegerkalong hillir bunderan deket kantor kecamatan
10. deket kafe halaman
11. jl taman sari depan kebon binatang (dua hari yg lalu ada operasi gua juga kaget kok ada operasi disitu)
12. jl purnawarman sebelum petigaan wastukencana (sering banget kalo sore2)
13. jl merdeka dpan kapolwiltabes jl jawa (malam hari biasanya)
14. jl Banceuy (malam hari)
15. jl cikapundung timur/ barat (malam )
16. jl dipenogoro depan pusdai.
17. perempatan jl cendana deket taman pramuka.
18. depan kantor polisi bandung tengah deket perempataan lingkar – riau (malam hari)
18. jl terusan jakarta setelah borma antapani
19. jl lingkar atas pertigaan jl sukabumi
20. jl suci setelah perempatan cikutra , arah ke cicaheum
21. depan kantor polisi ujung berung ,
22. sekitar pertigaan cibiru
23. jl. soekarno hatta depan MTC (di jalur lambat )
24. jl soekarna hatta deket SM Building /Komp PLN
25. jl terusan buah batu deket pasar kordon
26.. jl Otista bawah setelah perempatan pungkur (kebon kelapa)
27. jl m. ramdan ujung deket patung ikan.
28. jl kopo deket pom bensin sebelum pintu tol.
29. jl . Abdul Rivai deket hotel cemerlang
30. jl pajajaran deket kantor samsat/ stm penerbangan
31. jl terusan pasir koja sebelum perempatan by pass.
Janganlah kau mencari pekerjaan untuk merubah nasib…
Karena dengan begitu pekerjaan akan merubah dirimu…
Kau akan menjadi orang lain bukan dirimu sendiri.
TApi lakukanlah apa yang sedang kau kerjakan dengan sebaik mungkin…
Niscaya nasibmu akan berubah dengan sendirinya.
Tentu tidak lepas dari campur Tangan Tuhan!
Sebuah “Desa global” telah terwujud dalam peradaban
manusia saat ini. Sekat-sekat geografis antar negara
tidak menghalangi manusia untuk saling berkomunikasi
dan berbagi informasi. Kecanggihan teknologi memang
membuat dunia seakan sempit. Tak ada lagi suatu momen
yang terjadi di seluruh penjuru bumi, yang tidak
diketahui manusia saat ini. Buktinya, dengan selisih
waktu sepersekian detik, peristiwa yang sedang
berlangsung di belahan bumi timur dapat di akses
secara langsung oleh manusia yang berdiam di belahan
bumi barat. Kecanggihan transportasi masa kini mampu
memindahkan manusia untuk beranjak dari satu tempat ke
tempat lainnya yang berjarak ribuan kilometer, dengan
kecepatan cahaya. Mengagumkan ! produk kreatifitas
akal manusia agaknya telah menjadikan percepatan dalam
hidup ini. Sebuah lompatan peradaban, hasil
experimentasi dan inovasi cerdas dari sebuah mahluk
yang katanya keturunan kera, menjadi mahluk modern
berdaya pikir tingkat tinggi. Berhasilnya sebuah
proses evolusi yang mampu menjadikan manusia seutuhnya
sempurna, tanpa cacat sama sekali.
Globalisasi tampaknya sudah menyergap segenap mahluk
penghuni bumi, menjadi sebuah kekuatan yang tak
terkendali. Membentuk sebuah pola pikir global,
hegemoni budaya global, kekuatan politik global.
Seakan berlari meninggalkan setiap manusia yang tidak
turut serta dibelakangnya, atau bahkan menyeret
manusia yang mencoba melawan arus ini. Hukum alam
memang berlaku saat ini. Siapa yang memiliki kekuatan
akan menjadi pemenang dalam perebutan pengaruh,
pembuatan pola pikir, penguasaan wilayah. Sisanya
hanya akan menjadi pecundang yang dengan patuh siap
mengikuti dan senantiasa mengkonsumsi produk-produk
pemikiran, budaya, teknologi, atau bahkan keyakinan
“Sang Pencipta” globalisasi. Sadar atau tidak sadar
manusia telah terjebak sebagai konsumen globalisasi,
sebagai objek penderita wabah global. Karena
ketidakmampuan manusia, terutama penduduk negara dunia
ketiga untuk bersaing dengan “Sang Pencipta”
globalisasi. Globalisasi menjadikan manusia sebagai
budak teknologi, sebagai budak postmodernisme, sebagai
hamba materialisme. Akibatnya, keyakinan agama yang
seharusnya menjadi prinsip dalam hidup mulai terkikis
habis, menyisakan sikap hedonis dan individualis. Tak
ayal lagi jiwa yang telah terkontaminasi semua ini
akan binasa oleh kehidupan serba bebas, tanpa
rambu-rambu yang akan menyelamatkannya dari jurang
kehancuran.
Budaya global telah memberikan kebebasan bagi setiap
individu untuk melakukan apa yang diinginkannya,
menghalalkan apa yang diperbuatnya tanpa peduli akan
kewajiban dan hak manusia di hadapan Tuhannya. “Sang
Pencipta” globalisasi telah menyeret manusia ke dalam
aturan main yang ditetapkannya, memperdaya manusia
untuk mengikuti hawa nafsunya. Hal ini sudah merasuk
jauh ke dalam jiwa manusia, membutakan akal manusia
yang tidak paham akan tirai budaya globalisasi. Coba
tengok efek globalisasi media di daerah-daerah
pedalaman, pembodohan massal telah merebak dengan
bungkus budaya pop (Pop Culture). Begitu cepatnya
aliran globalisasi budaya dunia terekam disana, seakan
sebuah trend dunia adalah trend yang kita pun perlu
memilikinya.
Pengaruh globalisasi memang sudah sedemikian kuat,
penanaman pola pikir materilistis yang menjadi pondasi
globalisasi kian menghujam. Sehingga pengusung politik
global rela mengorban apapun demi keuntungan materi.
Mereka tak segan menjual diri, keluarga, rakyat, atau
bahkan bangsanya atas nama perdamaian global, atas
nama kesejahteraan dan kemakmuran global. Mereka
bertutur agar dunia menjadi lebih baik untuk
ditempati, sebaliknya dibelakang semua itu sedang
terjadi kerusakan jiwa manusia, mengakibatkan bencana
global akibat eksplotasi sumber daya alam demi
pembangunan. Ini merupakan sebuah bukti bahwa ada
upaya sistematis yang kian mengarah kepada
penghancuran peradaban manusia di dunia. Kekuatan
apakah yang berdiri di belakang semua praktik
globalisasi ?
Kadangkala waktu mampu berkata
namun dia tak mampu tuk bertanya
Dia hanya memburu makna
Kawan…
Apakah keinginanmu?
Siapakah dirimu?
Mengapa harus selalu bergulat dengan khayalmu?
Diriku mulai terhenyak
tersentak…
bangkit dari berbagi asumsi diri
Yang terkubur selama ini
Tersadar dari rengkuhan mimpi kian membayangi
Diriku kembali terpuruk bahkan terhempas
Semua pecah, lalu hancur hingga berkeping
tak ada yang bisa….
merekat pecahan gelas persahabatan ini
Sudahlah….
waktu kan menjawab semua ini
antara aku, kau dia dan mereka
terhimpit dalam selangkangan dua dunia
antara dunia nyata kian menyiksa
dalam dunia maya…
selalu membohongi imajinasi kita
tak ada yang tersisa…
Hapuslah semua memori dalam diri
Habisilah semua kenangan…
Berangus semua keinginan dan harapan…..
Gulung semua anyaman kepercayaan…..
Hancurkan bangunan keyakinan…..
Biarkan aku membeku
Biarkan aku meleleh
Biarkan aku larut
Biarkan aku memuai
Biarkan aku dengan kesendirianku
