You are currently browsing the monthly archive for April, 2007.

I’m sick of feeling my soul
To people who’ll never know
Just how purposeless and empty they’ve grown
Because the language confuses like computers refuse to understand how I’m feeling today
I’m freezing and losing my way
I don’t need another map of your head
I’m freezing and losing my way
I don’t need another map of your head

I saw a liquid control
That gives life to a soul
I hit my head on it and woke up to know
That I was all alone
Wearing just socks and a phone
Someone is screaming like their world might explode

Yeah I’m freezing and losing my way
I don’t need another map of your head
I’m freezing and losing my way
I don’t want another map of your head

Freezing and losing my way
I don’t want another map of your head
I’m freezing and losing my way
I don’t need another map of your head

Kuterasing diantara kumpulan kata-kata
orang-orang yang berbicara
Canda tawa tak kurasa, bermain kelabu….
Karena asa dan duka

Hawa kebencian mulai meraba
Sense oh humour pun menjadi cahaya
terdiam, termenung, melamun
Berbagai perasaan larut dalam ingatan…..

Diam…..tahan nafasku
hanya itu yang ku laku
tutup mulut…..
bahasaku semua semrawutan
Mungkin udara yang kuhirup penuh dengan
Asap problema

Terdiam, termenung, melamun
Berbagai perasaan larut dalam ingatan…..

Daughter : Dad, i love Ruly. I want to marry him.
DADDy    : No !!! I have already arranged your marriage with Dimas. I
                know Dimas is the best guy for you. Not only, he is my      
                best friend’s son, he comes from a respectable and   
                affluent family. And besides, dimas father and i are both
                from the same village.

FATHER  : Why dont you want to be a doctor, Andi ?
Son        : I don’t want to deal with sick people all my life. I want to
               enjoy my life and do things according to my talents. I want
               to study arts. It is more enjoyable.

X : Why don’t you look so gloomy ? something wrong ?
Y : I want to go camping with my school friends. But once father says
     " NO !!!, we can’t argue anymore. It’s final ".

Banyak yang ku pikirkan, namun tak mampu ku tuliskan. Banyak ide hinggap di kepala, namun tak satu pun yang ku tangkap.
Emosi kadangkala mempengaruhi cara berpikir, cara bicara atau bahkan merubah sikap dan tingkah laku.
Emosi yang tak terkendali bisa merubah individu lugu menjadi amuk massa dengan huru-hara.

Hukum sebab akibat selalu berlaku dimanapun dan kapanpun. Bagi sebagian orang yang logic dalam berfikir, dalam berbicara dan bertindak, hukum ini selalu dibubuhkan ketika berfikir, berbicara dan bertindak. Namun sebenarnya dari manakah hukum ini berasal ? Dari manakah kaidah-kaidah awal hukum ini tercetus? jujur saja kupertanyakan hal ini, karena mulai dari ilmu eksakta, sosial, bahasa dan budaya bahkan kadangkala agama menggunakan landasan ini. Misalnya teori-teori Newton; aksi-reaksi, marx; tesis-antitesis, bahasa; klimaks-antiklimas, budaya; modern-postmodern, agama; karma.
Kerangka berfikir ini tak ayal telah menjadi pattern bagi penganutnya. Dalam konteks hukum karma, kebaikan akan dibalas dengan kebaikan dan kejahatan akan di balas dengan kejahatan pula. Apakah memang harus seperti itu? dan apakah hal itu pasti terjadi? Bila memang ini merupakan sebuah hukum dan telah dibuktikan secara empiris, adakah kemungkinan akibat yang kita terima tak terkait dengan sebab yang kita lakukan?
Pernah kubaca dalam sebuah novel~the zahir~, si Penulis menggunakan istilah “Bank Budi” untuk menggambarkan hal ini. Adakalanya dia perlu menginvestasikan/menyetorkan budi kepada bank ini, hingga suatu saat dia bisa menarik budi ini kembali ketika dibutuhkan. Semacam transaksi uang yang lazim kita lakukan ke Bank. Hanya…disini objeknya budi. Yups……hingga terlahirlah ungkapan “tidak ada makan siang gratis”, “ada udang di balik batu”, yang artinya kurang lebih ada sebuah kepentingan dibalik semua tindakan baik seseorang kepada orang lain.
Mungkin hukum ini dianut oleh sebagian besar orang-orang beragama dan agama memang mengajarkan hukum ini. Mungkin ketika semua agama menganut hukum ini, akhirnya agama hanyalah sebuah kepanjangan tangan dari kepentingan Sang Penguasa. Mungkin ketika semua ilmu berujung pangkal pada Sang Maha Tahu, hukum ini merupakan bagian dari AjaranNya. Mungkinkah Dia menciptakan manusia hanya untuk menciptakan berbagai kepentingan bagi diriNya, dan suatu saat Dia menarik investasiNya untuk menagih semua Janji-janji yang manusia ucapkan dengan penuh keyakinan Pada DiriNya.
Karena kebodohan dan keterbatasanku sebagai manusia maka aku bertanya.
Aku hanya ingin mencari dimana letak esensi dari semua ini.
Aku tidak ragu akan eksistensiNya.
Aku yakin Dia lah Esensi (satu-satunya) dari semua eksistensi.
Aku yakin Dia tidak memiliki motivasi apapun akan penciptaan diriku, karena….. Dia Maha Kaya dan Dia Tidak Tergantung Pada sesuatu pun diluar DiriNya.
Dia hanya ingin mengajarkan padaku untuk lebih mengenalNya dan mencintaiNya.

Merupakan hasil rekayasa dari kreatifitas manusia yang tak terbatas, tak lepas dari kepentingan yang di tuju. Tanpa disadari sebenarnya manusia sedang memanipulasi dirinya sendiri, membuat kebohongan-kebohongan bagi diri, Sang Pencipta atau bahkan publik. Tentu saja manusia harus bisa mempertanggungjawabkannya di hadapan hati nurani (diri), Sang Maha Melihat (God), masyarakat (publik). Parameternya adalah apabila kita sudah pintar memanipulasi publik maka, sangatlah mudah untuk memanipulasi diri dan tuhan. Karena eksistensi diri sebagai mahlukNya, dan Eksistensi masyarakat sebagai kumpulan dari mahluk-mahlukNYa telah mampu kita bohongi dengan kebohongan yang dilakukan pada hati nurani sebagai Esensi. Lantas dimana eksistensi diri bila esensi telah kita manipulasi ???

Adakah petanda-petanda yang kita temui dan kita ikuti dalam kehidupan nyata, dalam gerak langkah kita mengarungi perjalanan hidup….
dalam rentang jarak masa lalu dan masa depan
dalam menggapai impian impian……
dalam sadar dan bawah sadar….
dalam …..
Ataukah memang petanda itu sesungguhnya tidak di dalam~diri ?
tetapi di luar,,,,, sesuatu yang terjadi di luar situasi dan kondisi dimana tidak ada eksistensi kita di dalamnya,,,,,,namun ~diri mampu memahami semua yang terjadi

Hanya kadangkala semua petanda itu tidak kita sadari, atau kadangkala kita tidak terlalu peduli karena kurang memahami bahwa itu sebuah tanda, atau bahkan kita terlalu sering melewati karena itu hanyalah sebuah tanda dan tidak ada yang lebih menarik dibandingkan rutinitas yang akan kita lewati…..
Seperti seseorang yang pergi-pulang melalui jalur yang sama setiap hari. Dia melihat rambu lalu lintas, mungkin hanya melihat karena tidak ada yang istimewa dengan rambu2 itu. lagipula tanpa perlu melihat pun dia mungkin sudah hapal jalur mana yang akan di lewati tanpa harus memaknai dulu rambu2 itu, dia sudah mengatur semua jadwal rutinitas se-efektif dan se-efisien mungkin tanpa harus menyibukkan diri dengan semua rambu2 yang di lalui…..karena itu hanyalah sebatas tiang yang di gambari dengan simbol2 aturan yang sudah dipelajari sejak pembuatan surat izin mengemudi….

Keberanian untuk mengambil keputusan dan segala konsekuensi yang akan diterima meskipun itu pahit, telah menjadikan para pengelana mampu bertahan hidup dengan impian yang mereka yakini mampu untuk di wujudkan. Meskipun lapar, terkapar, tepar, tak terbayangkan apa yang kan terjadi di akhir nanti, jiwa-jiwa pengembara selalu berani menghadapi. Karena jiwa mereka senantiasa siap untuk menghadapi berbagai kondisi.

(al-chemist~1)
Sebuah ungkapan bijak pernah kudengar bahwa kehidupan adalah perjalanan (live is a Journey), namun aku ingin menerjemahkannya menjadi hidup adalah sebuah petualangan (live is a adventure). Perjalanan memang identikdengan petualangan, namun ada hal yang tidak dapat kita temukan dalam perjalanan dan hanya kita dapatkan dalam petualangan yaitu sebuah tantangan.
Tantangan untuk beranjak dari kehidupan yang kita jalani sekarang menuju masa depan, tantangan untuk beralih dari kondisi mapan menuju kekurangan dan ketidakpastian, tantangan untuk menggerakan impian kita menjadi kenyataan.
Seorang anak gembala mampu mengubah kehidupannya dan mencari harta karun yang tersembunyi
dalam dirinya (esensi yang berupa kebijaksanaan) dan diluar dirinya (eksistensi berupa materi), karena impian-impian yang membangunkan dia untuk melihat Piramida yang berada nun jauhdi seberang gurun sahara.
Berawal dari cita-cita sederhana dirinya yang ingin berkelana mengenal dunia hingga rela tidak menuruti keinginan orang tuanya agar menuntut ilmu bergelut dengan buku.
Namun mimpi2 memang membuat hidup lebih menarik apabila ada kemungkinan untuk mewujudkan mimipi-mimpi itu menjadi kenyataan.

Perempuan gipsi tua : “Mimpi-mimpi adalah bahasa Tuhan. Kalau Tuhan berbicara dalam
bahasa kita, aku dapat menafsirkannya apa yang dikatakanNya.” (p19)

Setiap manusia pasti memiliki impian dalam hidupnya, memiliki idealisme yang terus membayangi dan menggoda untuk di wujudkan. Karena manusia bukanlah seekor domba yang puas hanya mendapatkan makanan dan air mengandalkan insting-insting mereka, dan berkelana mengikuti anak gembala tanpa dapat menentukan arah sendiri, tanpa peduli akan padang-padang rumput yang terlewati…..hanya makanan dan air.

Sang raja : “Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu
meraihnya.” (p31)
Maka temukanlah takdir itu dan berusahalah mewujudkannya karena hal ini adalah sesuatu yang ingin selalu kau capai kawan!
Namun tak sedikit orang yang berusaha mengubur impiannya saja, atau menjadikan impian hanya sebatas angan-angan dan semangat hidup tanpa berusaha mewujudkannya.
Seperti tukang roti yang mengingkan berkelana ke afrika namun menunggu mewujudkan impian hingga akhirnya mimpi itu terkubur. Atau seperti pemilik toko kristal yang memimpikan berziarah ke mekah hanya sebatas impian untuk tetap menjaga semangat usahanya.

Kadangkala kebahagiaan juga bisa dinikmati dengan kerelaan menerima apa yang kita terima, cukup merasakan apakah seseorang cukup dekat atau jauh dengan takdirnya dengan membaca petanda-petanda.
Anak gembala : “Penjual gula-gula ini membuat gula-gula bukan karena ingin berkelana atau menikahi putri pemilik toko, melainkan karena inilah tujuan hidupnya.”(p57)
Tak ada yang salah dengan semua impian itu, karena ‘rahasia kebahagiaan adalah dengan menikmati segala hal menakjubkan di dunia ini, tanpa pernah melupakan tetes-tetes air disendokmu` (P43)

Janganlah kau mencari pekerjaan untuk merubah nasib…
Karena dengan begitu pekerjaan akan merubah dirimu…
Kau akan menjadi orang lain bukan dirimu sendiri.

TApi lakukanlah apa yang sedang kau kerjakan dengan sebaik mungkin…
Niscaya nasibmu akan berubah dengan sendirinya.
Tentu tidak lepas dari campur Tangan Tuhan!