You are currently browsing the monthly archive for November, 2007.
Menyambut kelahiran seorang anak tak semudah yang kubayangkan. Disana ada perjuangan antara kehidupan dan kematian, ada tetesan keringat, ceceran darah, doa, air mata dan senyum bahagia.
Seorang teman sedang menantikan kelahiran anaknya yang kedua, mengingat usia kehamilan sang istri telah menginjak 9 bulan. Hari itu, ketika sedang dinas dilapangan sang istri menelfon, memberitahukan agar segera pulang. Karena tuntutan pekerjaan, dia memutuskan untuk tidak pulang sebelum selesai. Dia berkata pada sang istri agar memanggil kakak atau ibunya saja, yang kebetulan tinggal tak jauh dari rumah. Dia berfikir istrinya hanya mual-mual biasa dan bila waktu kelahiran tiba, orang rumah pasti membantu istrinya. Kelahiran anak pertama pun lancar tanpa ada kesulitan.
Namun apa daya, setibanya di rumah….. istrinya memang melahirkan. Ia melahirkan didampingi oleh seorang dukun beranak. Ibunya berkata bahwa ia tak sempat membawa sang istri ke bidan, untuk memanggil bidan pun jaraknya cukup jauh. Ketika menjelang sang bayi keluar dari rahim, sang istri sudah setengah sadar. Dia mencoba terus mengajak bicara agar sang istri tetap konsentrasi, agar istrinya tetap ingat. Bersamaan dengan lahirnya jiwa ke bumi, istrinya terpejam……….. Sang istri terkapar tidak sadar….. kondisi nya sangat lemah. Saat itu dirinya merasakan emosi yang campur aduk, antara gembira namun duka, antara marah dan ingin menangis. Satu sisi dia memiliki seorang anak, sisi lain dia tidak mau kehilangan istri.
Akhirnya tanpa banyak berfikir dia berikan nafas bantuan, kemudian dia pompa jantung sang istri……….tetap masih tak sadar. Dia pegang denyut nadi…..tak berdetak. Berulang dia berikan nafas bantuan, pompa jantung sang istri…….tak ada respon…..tetap ga ada respon. Akhirnya emosinya meledak, akalnya sudah tak bisa berfikir jernih. Dia membentak si dukun beranak, " POKOK nYa AKU GAK MAU KEHILANGAN ISTRI Ku, KLO IStri Ku Mati NYawa KAMU Tebusannya." Saat itu kondisi sang bayi belum di urus sama sekali, setelah kelahiran bayi sang dukun masih sibuk mengeluarkan tali ari yang masih tertinggal dlm perut ibu. Disanalah terjadi pendarahan hebat. Hingga akhirnya sang istri tak mampu mempertahankan kesadarannya.
Seluruh anggota keluarga tertunduk lesu, sebagian tampak membaca doa mengiringi kepergian sang istri. Ibunya hanya berkata, sabar Aa…… semua sudah takdirNya. Dia masih tetap berulangkali memberikan nafas buatan, bahkan sampai tega menampar keras pipi istrinya sudah yang terbujur kaku. "Mah…mamah sadar mah……" Beberapa menit waktu berlalu…….
Tetangganya yang bekerja sebagai perawat di sebuah RS swasta datang, itu pun setelah ibu-ibu sekitar menyusul kerumahnya. Dia berkata agar sang ibu segera di infus, kondisinya sangat kritis namun masih ada harapan sahutnya. Terfikir oleh dia untuk membawa sang istri ke RS, namun mengingat jarak dan waktu di perjalanan dia memutuskan untuk menyerahkan penanganan medis sang istri kepada perawat itu. Akhirnya setelah tali ari ditarik keluar, lalu selang infus terpasang di tangan kanan dan kiri sang istri. Bukan sebuah kebetulan bila perawat itu memang dinas dibagian persalinan dan pasca kelahiran, jadi ia terampil meski bukan seorang bidan.
2 jam kemudian dia tersenyum melihat sang istri membuka matanya. Dia kecup keningnya, lalu kemudian menggendong bayi dan dibawa ke samping sang istri. "Mama tadi kemana ? dede bayi tadi nungguin mamanya dah nangis2 minta di peluk " dia menggoda istrinya. "Mama ga sadar, terakhir kali cuma inget papa bilang ‘mah bayinya dah lahir’…..trus mama ada yang ngajak ke ruangan serba putih, dan mama tidur lelap banget" sang istri berkata sambil tersenyum. "Wah situ enak tidur pulees, yang panik mah saya takut ntar dede bayi kehilangan induknya"
Tak lama kemudian perawat berpamitan untuk pulang, dia menyarankan agar sang istri ada yang mendampingi sebelum masa kritis 24 jam lewat. Akhirnya semalam suntuk dia duduk di samping sang istri, tak mau mengganggu istirahat istrinya yang terlelap. Sambil merenung, dia bergumam ‘aku hampir kehilangan istri dan anakku tercinta, karena pekerjaan yang sama sekali tak kucintai’.
khayalan yang lain, yang tak pernah penulis paham ketika sang dalang
menggerak- gerikkan lempengan kulit yang dibentuk gambar manusia dari
berbagai macam bentuk, sambil berbicara sendirian sang dalang terus
berdialog dengan dirinya sendiri, kadang dia bersuara lembut dan sopan,
kadang juga bersuara lantang dan kasar, kadang dia juga mengeluarkan
kata-kata mutiara, kadang juga membikin humor, dan humor inilah hal
yang sangat mudah difahami oleh semua orang, termasuk saya ikut tertawa
ketika dagelan sudah dimulai.
Penulis pernah mendengar, ungkapan dalam
bahasa arab, fatruk ma bagho nala samirina, hampir mirip dengan tokoh
wayang yang saya sebut diatas, petruk, bagong, nala gareng, dan semar.
Ketika hal itu diterjemahkan menjadi ‘tinggalkan sesuatu yang durhaka
maka engkau akan mendapatkan kawan yang baik’. Secara pasti penulis
kurang tahu tentang wayang dan sejarah munculnya, namun setidaknya
penulis mengenal beberapa tokoh wayang, Petruk misalnya, dalam masa
awal saya belajar bahasa arab, ada gambar petruk, hidungnya panjang
tapi tidak terus memanjang seperti hidung pinokio, lencir kuru,
rambutnya seperti antena radio.
Juga semar orangnya gede,
wajahnya menghadap keatas namun tangannya menunjuk-nunjuk tanah, dan
tangan yang satunya ditaruh diatas punggung, cara berjalannya agak
jongkok seperti ibu-ibu jawa yang sedang menyapu halaman rumahnya.
Permulaan
pementasan wayang dimulai dengan gunung yang berterbangan begitu pula
penutupannya, hampir mirip dengan konsep awal alam semesta yang terjadi
setelah ledakan besar, terkenal dengan big bang, menurut para ahli
sains, yang pada akhirnya mengakui bahwa alam raya benar-benar
diciptakan oleh Allah tuhan semesta alam. Begitu pula nanti penutupan
alam semesta gunung-gunung pun berterbangan. "Dan gunung-gunung adalah
seperti bulu yang dihambur-hamburkan"
Layar
wayang terdiri dari dua sisi, kanan dan kiri, setiap sisi akan diisi
oleh wayang yang besar sampai kecil, semuanya adalah mati dan tak
berguna sebelum sang dalang menggerakkannya, serta mengisi suara untuk
wayang itu hingga seolah wayang itu itu hidup dan bisa berbicara,
setiap rupa wayang konon merupakan bentuk cerminan manusia, dan setiap
wayang punya sifat sendiri-sendiri, serta sikap sendiri-sendiri, ada
yang baik ada juga yang jahat jumlah dua kubu itu seimbang, namun yang
akan berperang dimedan laga hanyalah wayang-wayang pilihan yang telah
dipilih oleh sang dalang dan ditaruh dikotak yang dekat dengan dalang.
Setiap
wayang yang perang punya senjata khusus, baik dipihak yang benar maupun
pihak yang salah, mereka sama-sama punya aji-aji,sama-sama punya
pendukung, namun keputusan siapakah yang menjadi pemenang itu hak sang
dalang.
Jika anda jadi penonton sinetron biasanya anda
dikerjai sama sutradara, biasanya ada tokoh yang sangat menjengkelkan
dan nggak mati-mati, begitu pula sang dalang, sudah tahu wayang yang
jahat namun kok nggak kalah-kalah, ternyata hidup
dan mati ada ditangan sang dalang.
Pernahkah anda menjumpai
dalang yang ngantuk? Tentu tidak, sepanjang malam itu dalang tidak akan
ngantuk, tidak akan lelah bicara sendiri, tidak akan lelah bermain
wayang dan mengisi suara-suaranya, bahkan suara perempuan, apa yang
terjadi ketika dalang tiba-tiba pengen ketoilet, bisa jadi wayangnya
kocar-kacir. Begitu pula Allah yang mengatur alam raya ini tak pernah
ngantuk, yang Maha Kuat dan tak akan pernah lelah, yang tak akan lelah
mementaskan kehidupan ini sampai kapan saja Dia mau.
Dalang
dalam perwayangan hanya bisa menggerakan dua wayang dan bicaranya
bergantian tak akan bersamaan. Dalang dalam perfileman bisa
menggerakkan ratusan bahkan ribuan orang dengan suaranya masing-masing
dan bisa berbicara secara bersamaan. Dalang dalang pemerintahan bisa
menggerakkan jutaan mahluk hidup bahkan bisa menggerakan ekonomi,
Dalang dalam kehidupan dapat menggerakkan segala alam raya, manusia,
hewan, serta mengisi suara mereka secara bersamaan, menggerakkan
mereka, Dialah Allah dalang dari segala sesuatu.
Pernahkah
wayang merasa dirinya digerakkan sang dalang? Tahukah anda kenapa bumi
tidak berapa diposisi merkurius? Atau menggantikan posisi pluto yang
kini diusir dari planet galaksi bima sakti? Jika bumi dipindah diposisi
merkurius tentu akan menjadi lava pijar karena terlalu dekat dengan
matahari, yang tak akan bisa di huni oleh segala macam makhluk hidup,
begitu pula jika dipindah diposisi pluto tentu akan beku.
Kita
ibarat wayang yang berjajar rapi didua sisi layar pewayangan yang akan
bergerak dan kembali diam sesuai keinginan sang dalang, namun kita
bukanlah wayang kulit, kita adalah wayang peradaban, kita dibekali akal
pikiran agar tidak seperti wayang kulit yang digerakkan manusia dalang.
Dalang kita adalah Maha Dalang, dan kita menjadi maha wayang, jika
manusia-dalang hanya mampu menjadi dalang semalam suntuk, namun Allah
menjadi dalang sepanjang masa. Jika wayang kulit bisa berfikir tentu
akan ikut membaca tulisan saya ini (he he he).
Ingatlah
bahwa wayang tak akan mampu melawan dalang, sebesar apapun bentuk
wayang, atau sekuat apapun gatotkaca, begitu pula aktor tak akan mampu
melawan sutradara, bahkan melanggar aturan sutradara bisa kena sangsi
dan tidak diberi gaji. Marilah kita berbuat baik yang sepenuhnya, jangan hanya untuk
memburu nafsu duniawi semata. Bukankah Allah sang Maha Sutradara sangat Adil, Kaya dan Bijaksana.
By: M. Moealliem
kadangkala mengalah itu merupakan keharusan untuk menerima ketentuan Dia
Ngalah bukan berarti kalah…..absolutely agree!!!

