You are currently browsing the monthly archive for January, 2008.

Apakah Dia pernah memperlihatkan Cinta Kasih secara kasat mata pada setiap manusia. Setahuku tidak bagi orang-orang yang sekedar mengenalNya, tanpa timbal balik MencintaiNya. Kadangkala Cinta tidak untuk diperlihatkan kepada siapa saja. Cukup untuk diri, hanya seorang diri, tak perlu mengumbar janji atau pernyataan sehidup-semati. Menurutku ketulusan berawal dari sini, saat cinta menjadi gerbang awal menuju kesucian diri. Menjadi orang suci tidaklah harus dimulai dengan mengasingkan diri dan menjauhi realita kehidupan hari ini.
Saat kupandangi bulan mati, gelap tanpa cahaya di malam hari. Apakah bulan tetap berada diantara bintang kecil bersinar. JawabNya, tentu ada dan pasti ada. Saat ibulan sedang menguji ketulusan diri, menyembunyikan diri dari segala kebanggaan akan “Satu-satunya cahaya yang menerangi kegelapan malam”. Saat Bulan menyadari bahwa cahayanya hanyalah pantulan sinar yang lebih terang dari Sang Pemilik Matahari.
Aku bahagia ketika cinta menemukan pasangan sejati, tempat dimana akhirnya dua hati bersandar menepi. Beranjak dari sebuah keterasingan menuju keramaian, berlari dari kesendirian menuju kesatuan, merebah diri merajut dua simpul harmoni.
Aku bahagia ketika jiwa terkoyak menemukan makna sejati, tempat dimana akhirnya jiwa merasakan kedamaian. Tetap berdiri meski rumah dihempas badai tak pernah usai, terus bergerak meski kekacauan tak berhenti mencari celah untuk saling menyakiti, bertahan walau tangga goyah oleh goncangan.
Aku bahagia ketika romantisme menghinggapi, tempat dimana labirin cinta tetap hidup. Teguh keinginan tak mau rubuh, tetap berharap walau jarak enggan menyempit, tetap terpaku hingga waktu terus berlalu.

Aku ingin membuat buku, untuk perjalanan setahun umurku. Segores catatan tentang cinta dalam sebuah diari kematian cinta. Namun, aku harus meminta izin terlebih dahulu. Berkaitan dengan karakter hidup yang nantinya akan bangkit dalam Diariku. Sebab aku tak mau bila esok hari mereka menuntutku, menuduh bahwa aku telah mengeksplorasi bahkan mengeksploitasi kisah-kisah nyata dalam hidup mereka. Lebih baik ku urungkan saja niatku, bila semua tidak setuju bahkan sampai melempari batu. Lebih baik kuhindari semua ide yang telah sekian lama bergumul dalam pikiranku ini, bila ternyata karya ku diberangus sampai hangus oleh subjek dalam ceritaku, lebih baik bagaimana menurutmu…..???

"There is no dark side of the moon really. Matter of fact it’s all dark."
-Pink Flyod

Seseorang membicarakan sesuatu yang tak kumengerti. Setiap pembicaraan hanyalah berawal dari sebuah pertanyaan dan berujung pada jawaban. Seseorang meminta jawaban, dan aku berikan pertanyaan kepadanya. Pertanyaan hanyalah alat bedah untuk menganalisa sebuah wacana, objek atau karakter. Mungkin menjadi alat agar lawan bicara kebingungan dengan apa yang akan dibicarakannya. Mungkin pula sebagai jalan agar proses komunikasi terus berjalan hingga akhirnya sang pembicara sendiri kecapean.
Seseorang meminta pendapat. Pendapat seperti apa yang akan aku berikan, tergantung pada apa kebutuhan sang peminta pendapat. Bila saat itu keceriaan menjadi kebutuhan, maka pujian adalah pendapatku. Bila saat itu pelampiasan menjadi kebutuhan, maka makian adalah pendapatku. Cara pertama digunakan agar hati seseorang berbunga-bunga, cara kedua digunakan agar amarah menguasai hatinya hingga emosinya meledak dan kekesalan membludak tak tertahankan.
Seseorang menuntutku sesuatu yang tak kumiliki. Maka akan kuberikan apa yang dia mau, walaupun nyatanya tak memiliki akhirnya ku pinjam dari sana sini. Seseorang tetap menghabiskan energi untuk sesuatu yang tak pasti, karena tak ada kepastian dalam dunia ini. Semua hal berkisar pada berbagai kemungkinan, alternatif pilihan, serta kesesuaian antara ketidaksengajaan dengan momentum terjadinya suatu peristiwa. Sehingga aku sendiri tak bisa memilih apa yang akan menjadi pilihanku nanti, tapi waktu mempunyai pilihan sendiri.
Seseorang bertanya “siapa yang kau cintai ?” Aku menjawab: “Aku mencintai Dieu, DIA dan dia”. Maka dia mencelaku “halah kau jangan berbelit dengan jawaban seenak perut dan bawah perutmu, lalu siapa mahluk yang kau cintai ?” seseorang dibuat seakan lebih tegas, “siapa wanita yang kau cintai di dunia ?” Aku menjawab: “Ibu, Ibu dan Ibuku” Seseorang dengan geram mengajukan pertanyaan gila berikutnya “Siapa wanita yang kau sukai di dunia maia ?” Setengah bingung kujawab….. Seseorang menukas “mengapa?” Sembari tersenyum aku berkata, hati-hati semua hati bisa dimanipulasi. Aku bukanlah seorang manipulator, namun aku adalah manipulasi itu sendiri.

Cinta memang tak pernah memilih, tak kan pernah tahu kapan kita terjatuh karena cinta mempunyai jalan sendiri. Keyakinan akan terbukti setelah kau mencintai. Keyakinan akan teruji ketika ketakutan dan rasa cinta datang beriringan.
Ada beberapa kerikil menggelitik kaki alam bawah sadar ku sebagai seorang pecandu dunia maya.
Keyakinan bukanlah sebuah identitas sosial bagi pemeluknya ?
Keyakinan tidak pantas untuk diaktualisasikan dalam form registrasi e-mail, situs jejaring sosial atau bahkan account bank anda di dunia maya ?
keyakinan –walaupun ada– hanyalah sebatas simbol-simbol yang ditampilkan oleh pemiliknya secara informal ?
Keyakinan tidak layak dibicarakan dalam ruang publik, karena keyakinan bukanlah merupakan konsumsi publik. Keyakinan hanya terbatas pada wilayah privat, antara diri dan hati ?

Keyakinan dan cinta yang seharusnya saling menguatkan, kini berebut posisi mencari tempat paling layak dihati. Cinta melampaui keyakinan, karena cinta bahasa universal yang dapat dimengerti siapa saja. Sedangkan keyakinan, mungkin terbatas pada kotak-kotak sempit dengan begitu banyak batasan. Kadangkala pelanggaran batas membuat perpecahan satu keyakinan dengan lainnya.

Apa yang menjadi keyakinan sekarang belum tentu kau cintai saat ini.
Sedangkan apa yang sekarang kau cintai pasti menjadi keyakinan saat ini.
Sudah sejauh mana kita mengenal keyakinan ?
Sudah sampai mana kita mempertahankan keyakinan ?
Sudah terlalu jauh kita meninggalkan keyakinan walau sebatas seremonial ?
Sudah terlalu lama kita menanggalkan keyakinan demi cinta ?
Sudahlah jangan kau bahas pertentangan keyakinan dan cinta yang tak ada ujungnya……
Katanya…..cinta tak pernah salah
Karena cinta telah menjadi DASAR KEYAKINAN dalam dunia maya.

Suara suatu suara membuat diriku gagu
Termangu…..
Tanpa ku tahu mengapa

suara selalu datang mengganggu ketenangan ku
Aku hanya terdiam membisu

Aku sekarang bersama suara mu
Aku sedang tidak nyaman oleh suara mu
Aku sendiri tak berani dengar suara mu

Mendengar untaian kata tanpa efek suara
Kadang bisa membuat dirimu gila
Begitu juga diriku
Sanggup memendam
Tak mampu hentikan……
Bahkan tak mau ku kendalikan
Keinginan suara membabi buta kian mengamuk massa

Biarlah semua remuk redam
Tak perlu akui ini hanya sebatas emosi
Sebatas perasaan yang datang menghantui
Nantikan hilang seiring berlarinya hari

           Banyak hal telah kulalui. Mulai dari basa-basi, diskusi, hingga perdebatan tanpa henti. Teman datang silih berganti, sekedar menyapa atau menemani kesepian hati. Aku masih disini dengan kesendirian tanpa tepi. Meski ramai argumentasi, membicarakan setiap masalah–yang tak kan ada habisnya bila diperbincangkan,kecuali diakhiri dengan aksi–tanpa satupun solusi, atau sekedar berbincang riang sampai mata  berkunang-kunang.
            Satu hal yang patut ku syukuri. Aku masih memiliki keyakinan, dan akan ku pegang teguh sampai mati. Setidaknya sampai saat ini, saat hati masih diberi perasaan, saat akal masih diberi kemampuan berfikir, saat Kau masih izinkan menghirup udaraMu dan menikmati kehidupan.
Apakah nikmatMu yang selama ini aku dustakan ?
Apakah keraguan begitu menghantui, hingga sirna ketundukan lalu meraja keangkuhan ?
Seharusnya aku tengadah mengharap cintaMu, meski seringkali kepentingan datang mendahului.

Dari lubuk hati yang masih pekat oleh keinginan-keinginan yang tak terkendali.
Manusia ini tak semestinya diakui sebagai hambaMu.
Manusia ini tak pantas dibenamkan dalam luapan KasihMu.
Manusia ini tak tulus
tak secuil karya pun layak Kau terima.

Kumohon…..
Satu…..
Kesucian.
Bila Kau berkenan memberikan kesempatan.

                Sepasang kaki masih diam disini, dibawah telapak yang tak mau menapak, terbelenggu oleh semua kesenangan semu. Tak peduli ini mimpi atau nyata, namun kian hari kian menggila. Antara memegang kendali dan dikendalikan oleh tanda tanya, aku tidak sanggup memilih satu diantaranya. Akhirnya aku memilih diam.
Cerita tentang kaki yang enggan melangkah. Kaki mengambil alih fungsi, tidak lagi digunakan untuk berjalan, tapi untuk berfikir. Sedangkan kepala kini berlari kesana-kemari tak tentu arah. Satu hal ini terus menggangguku…..rasa penasaran itu belum usai jika tak kutemui dirimu.

Tak lengkap rasanya bila bercerita kaki tanpa tangan. Tangan sudah tak mau berkompromi. Tekad untuk mengakhiri rangkaian kata-kata gila dan tak tahu etika hilanglah sirna, tangan jujur menterjemahkan segalanya tanpa ada aba-aba. Kaki tangan sedang belajar berfikir, meski terbatas. Kaki berfikir dalam diam, sedangkan tangan berfikir kala bergerak.

Hari jumat, sepulangku dari RumahNya. Aku bertemu seorang pedagang, dia asik masyuk selonjoran di selasar. Berpakaian seragam biru dengan gambar es di punggung, menunjukkan bahwa dia berprofesi sebagai penjual es krim. Orang sepertiku menilai dari apa yang terlihat,alangkah mudahnya menentukan identitas dengan melihat simbol-simbol yang dikenakan. Dia memang seorang pedagang es krim keliling, kupasikan dengan adanya roda es terparkir tak jauh dari selasar. Setelah kuperhatikan dengan teliti, ada yang tak nampak pada dirinya. Tak sadar rupanya dia sedang diamati, dengan posisi setengah tidur terlentang, aku tak melihat tangan sebelah kanan. Sekali lagi kupastikan dengan mata telanjang, bahwa dia memang hanya memiliki sebelah tangan. Akhirnya timbul sebuah keinginan untuk bercakap-cakap dengan dirinya. Dia bercerita tentang rute jualan yang dilakoni sejak pagi hingga sore hari. Mengayuh roda dengan box es krim, membunyikan speaker kecil untuk mengundang siapapun kala terik datang menyerang. Keluhan Dia bila cuaca mendung petanda hujan kan turun, hinggap di telingaku.
Satu hal yang aku iri pada dirinya ialah semangat yang tak pernah berhenti. Tak peduli !!! meski prakiraan cuaca esok hari hujan badai sekalipun, kedua kaki tak akan pernah berhenti mengayuh. Dia terus berusaha dan meminta hanya kepada Sang Maha Pemberi.

Saat itu aku tak mampu menyodorkan tangan untuk berjabatan erat denganmu, aku begitu malu dengan "amputasi kaki-tangan terbatas miliku". Tak seperti dirimu "pemilik sebelah tangan", merasa tak terbatas dengan apa yang kau miliki. Terus bergerak dengan satu keinginan sederhana, menjajakan es krim pelepas dahaga. Aku berharap pemilik sebelah tangan tak merasa  terhina, meski kita hanya berkenalan dengan sebuah senyuman :)       


Kalau boleh, aku menginginkan sebelah tanganmu itu………
Karena aku begitu membutuhkannya saat in,
Untuk mewujudkan rasa cinta dan melepas semua benci didada.

            16 Hari menjelang kedatangan takdir berulang dan terulang lagi, hingga kini masih menjadi misteri kapan takdir ini akan berhenti. Siapa aku coba untuk mencari indentifikasi diri yang lama tak kutemui. Sampai saat ku menemukanmu terkapar dalam sudut kegamangan, diantara beribu asa yang tak nyata.
Kusadari memang saat ini aku hidup di dunia maya…ahmad, pingkan…mambo,
juga mulan kwok yang berganti nama menjadi mulan jameela demi merubah citra diri agar hilang semua persepsi…..
            MAAF, saat ini jemari tanganku tak mampu memegang kendali akal liar yang terbang kian-kemari. YANG PASTI…..SUDAHI SAJA BASA-BASI INI !!!
Seperempat abad lebih waktu yang telah kau habiskan dengan semua permainan dan senda gurau. Sudah tiba saatnya bangkit berdiri melawan semua ketidakpastian ini. Sekarang ambil kompas dan mulai peta-kan perjalanan yang akan kau lalui nanti, jalur mana yang akan kau tempuh ?
Mendaki lagi curam atau menurun lagi landai ?
Semua kan terlewati bila pundakmu dibekali ransel penuh dengan semangat dan isyarat hati. Berharap cemas dia mau menemani hingga puncak tertinggi, tempat dimana langit dapat kuraih dengan jemari dan awan menawarkan diri untuk kunaiki.   

Berkaca pada TenZing Norgay

Sesaat setelah Sir Edmund Hillary bersama Tenzing Norgay kembali dari puncak Mount Everest, hampir semua reporter dunia berebut mewawancarai Sir Edmund Hillary, dan hanya ada satu reporter yang mewawancarai Tenzing Norgay, berikut cuplikannya :

Reporter : Bagaimana perasaan Anda dengan keberhasilan menaklukkan puncak gunung tertinggi di dunia?
Tenzing Norgay : Sangat senang sekali

Reporter : Andakan seorang Sherpa (pemandu) bagi Edmund Hillary, tentunya posisi Anda berada di depan dia, bukankah seharusnya Anda yang menjadi orang pertama yang menjejakkan kaki di puncak Mount Everest ?
Tenzing Norgay : Ya, benar sekali, pada saat tinggal satu langkah mencapai puncak, saya persilakan dia (Edmund Hillary) untuk menjejakkan kakinya dan menjadi orang pertama di dunia yang berhasil menaklukkan Puncak Gunung Tertinggi di dunia….

Reporter : Mengapa Anda lakukan itu???
Tenzing Norgay : Karena itulah IMPIAN Edmund Hillary, bukan impian saya…..impian saya hanyalah berhasil membantu dan mengantarkan dia meraih IMPIAN nya.