You are currently browsing the monthly archive for May, 2008.
I am the next act waiting in the wings
I am an animal trapped in your hot car
I am all the days that you choose to ignore
You are all I need
You are all I need
I am in the middle of your picture
Lying in the reeds
I am a moth who just wants to share your light
I’m just an insect trying to get out of the night
I only stick with you because there are no others
You are all I need
You are all I need
I am in the middle of your picture
Lying in the reeds
It’s all wrong
It’s all right
It’s all right
It’s all wrong
It’s all right
It’s all right
It’s all right
:RadioHead
Here I stand head in hand
Turn my face to the wall
If she’s gone I can’t go on
Feelin’ two-foot small
Everywhere people stare
Each and every day
I can see them laugh at me
And I hear them say
Hey you’ve got to hide your love away
Hey you’ve got to hide your love away
How can I even try
I can never win
Hearing them, seeing them
In the state I’m in
How could she say to me
Love will find a way
Gather round all you clowns
Let me hear you say
Hey you’ve got to hide your love away
Hey you’ve got to hide your love away
The Beatles
The blissful state reveals itself as a shining light, as a luminescence permeating the still field of the mind. There is a sense of light from an undefined “above,” silence, a fullness of vitality, and deep rest.
In sacred poetry, particularly in Zen poetry, this is often expressed as the full moon in the night sky.
The moon is the individual consciousness that shines only by reflecting the constant light of the sun, which is unbounded awareness. Individual consciousness, like the moon, waxes and wanes, sometimes bright and clear, sometimes dark.
When the moon, consciousness, is full, it is round, whole, complete, perfectly reflecting the light of divine awareness. The full moon is enlightenment. It is Buddha-mind. It is the soft light that illumines the land below when all is at rest.
Some Taoist and Buddhist poetry speaks enigmatically of the sun shining within the moon. These poems are referring to the state of full enlightenment when pure awareness (the sun) shines unhindered through the enlightened individual consciousness (the moon).
The full moon reminds us of the ultimate in awareness and spiritual presence. The new moon, in its darkness, can represent the “death” of complete egolessness or encountering the unknowable nature of the Mystery…
T.N.H.
Sebuah kekeliruan ketika sesorang menceritakan ketiadaan. Yang telah
tiada tak seharusnya dibicarakan, dinyatakan dalam bahasa verbal sebab
pengungkapan tak akan mampu mengembalikan ketiadaan.
Ketika ingatan memunculkan yang telah tiada, semuanya akan berujung pada
penyesalan dan kekesalan, bahwa kesalahan dipikul oleh keadaan, karena keberadaan
orang-orang yang menyertai ketiadaan. Biaralah ketiadaan berada diantara rasa
sepi dan kedamaian yang menyertai. Ku rasa ketiadaan menyebabkan kekecewaan,
berujung pada kerinduan yang selalu mengiringi berjalannya sang waktu, sampai ketiadaan
menyambut kedatanganku.
Fall Moon Festival (18052008)
What will happen when form collides with emptiness,
and what will happen when perception enters non-perception?
Come here with me, friend.
Let’s watch together.
Do you see the two clowns, life and death
setting up a play on a stage?
Here comes Autumn.
The leaves are ripe.
Let the leaves fly.
A festival of colors, yellow, red.
The branches have held on to the leaves
during Spring and Summer.
This morning they let them go.
Flags and lanterns are displayed.
Everyone is here at the Full Moon Festival.
Friend, what are you waiting for?
The bright moon shines above us.
There are no clouds tonight.
Why bother to ask about lamps and fire?
Why talk about cooking dinner?
Who is searching and who is finding?
Let us just enjoy the moon, all night.
by: T.N.H
Kemenangan-kekalahan sepertinya selalu dikaitkan dengan keberanian dan ketangguhan. Kemenangan hanya untuk seorang pemberani yang telah melewati masa ketahanan uji. Keberanian seakaan berkawan dengan besarnya nyali, sekali lagi: NYALI bukan mulut. Sejauh mana si Nyali mau mengambil resiko dari tulisan, ucapan atau tindakan si Mulut besar.
Kekalahan telah memiliki sahabat karib yaitu kadar ketakutan dalam diri.
ketika ketakutan telah mendominasi, keberanian tak kan mampu mengantisipasi.
Akibatnya semua mimpi berlari menjauhi.
Mengalah untuk menang tak lagi menjadi azimat ampuh dalam urusan ini.
Karena aku yakin semua mimpi bisa terealisasi. Semua imajinasi dapat menjadi wujud asli.
Ini bukan perkara ambisi atau obsesi. Sekedar memindahkan persepsi dari alam maya
menuju dunia nyata, sekaligus untuk menghabisi rasa yang kian berkecamuk di dada,
duakaligus untuk menyaksikan matahari menyala seakan penyaksian dejavu setiap dini,
tigakaligus untuk memastikan bahwa perjumpaan hanyalah ritual kesederhanaan dari
kerumitan perpisahan jiwa dengan kecintaan pada selainNya.
Beberapa hari yang lalu listrik d rumah ku tersambar petir. Dampaknya semalaman gelap gulita tak ada cahaya. Keesokan hari ada keterkejutan tak terduga, televisi yang semalam sempat di nyalakan rupanya terkena sambaran juga. Lucunya, beberapa orang tv junkie kecewa saat menyalakan tv yang hanya mengeluarkan suara saja, tanpa ada yang tampak di layar kaca. Jadilah tv ini sebentuk audio only, a-visual. Yang menonton terpaksa harus menggunakan imajinasinya berdasarkan suara yang ada. Hingga tak ada gerak bibir terbaca, gerak tubuh tertangkap mata atau gerak mata yg senantiasa berkedip.
Yaah….. itung-itung berempati kepada para tunanetra saat mendengarkan tayangan –suara– tv di kedua pasang telinga.
Tahukah kamu ternyata ada yang lebih menderita ? Yaitu ketika seseorang ‘tersambar petir’ tanpa pernah mendengar suara, apalagi bertatap mata. Mungkin imajinasi bisa sedikit mengobati. Namun apa jadinya bila hati bisa terkoneksi, hingga akhirnya dua suara bisa saling merasa, menatap, mendengarkan satu sama lainnya ?
Find the Dragon Balls! Look out for them all!
You can search around the world with me.
Gotta heed the call of magic Dragon Balls!
What a great adventure this will be.
You can climb on board, cause the Nimbus doesn’t wait!
A fantastic journey for your dreams — a thrilling mystery!
Through the fires of time, they’ve waited patiently.
When all seven balls you find, the Dragon is set free.
Rising, rising, mesmerizing, unbridled ecstasy.
Radiant and shining, hidden somewhere in the field,
Luminous and blinding, with your desire revealed.
Ageless, timeless, what you’ll find is beyond belief!
Let’s try, try, try, look high and low!
Search the sky and the sea below!
Let’s try, try, try, seize the day,
And make new friends along the way!
Find the Dragon Balls! Look out for them all!
Come and hunt those Dragon Balls with me.
Gotta heed the call of magic Dragon Balls!
What a great adventure this will be.
Set a course for action, adventure doesn’t wait!
A fantastic journey for your dreams — a thrilling mystery
(3rd Hour)
Matahari sudah mulai meninggi, udara mulai menghangat bersama kepergian embun
pagi. “kemana kita akan melanjutkan perjalanan ini ? dia bertanya penuh rasa ingin tahu.
“Setelah kau menemaniku untuk melihat terbitnya matahari, sekarang giliranku untuk menemanimu,
dan semua terserah padamu…..Kau bisa memilihnya. Bila meneruskan ke arah selatan berarti
kita akan temui sebuah danau besar ditengah perkebunan, orang-orang menyebutnya situ patenggang.
Bila kembali ke arah utara, telah kita lalui tadi beberapa pemandian air panas, perkemahan dan sebuah
kawah putih dari gunung tua tak bertenaga. Adakah yang menarik untukmu ?”
“Karena aku gak bisa berenang, dan kita menuju arah kembali pulang, alangkah senangnya bila kau mau
mengantarku menuju kawah putih. Terakhir kali aku datang kesana, kawah itu benar-benar putih seperti
terlihat dalam film.” Tanpa banyak bertanya segera ku ajak dia turun dari ketinggian ini.
“Aku pernah punya teman seperjalanan seperti dirimu, sama-sama suka naik gunung, berjalan-berbicara-berpakaian seperti seorang teman yang rela untuk berbagi dalam sebuah perjalanan. Kadangkala aku gak pernah anggap dia seorang perempuan, aku baru menyadari semuanya bila dia melepaskan ikat rambutnya. Seperti yang pernah kau lakukan, semua bikin perasaanku gak karuan. Namun…..sudahlah semua telah berlalu”
“Jam berapa sekarang ? kamu seharusnya tiba dirumah jam 10, gimana bila ibumu mencari, setelah kepergian dini hari tadi ? tanyaku bertubi-tubi.” Tenanglah, kita akan pulang setelah kau mengantarku ke kawah putih.”
Ternyata cuaca mendung mengiringi sepanjang jalan, dari jalan masuk menuju puncak tak nampak lalu lalang orang. Hanya kita berdua, jalanan berkelok dan kabut yang turun perlahan. Kurasakan kesepian saat kesunyian menemani perpisahan jiwa. “Biasanya gak sepi banget kayak gini kok ?…..”mungkin karena sekarang bukan hari libur, lalu ku jawab lagi. Mirip jalan ke ujung dunia ?”
Di puncak kawah suasana putih mendominasi, bebatuan cadas putih menjulang, air putih menggenang dipermukaan kawah, kabut tipis membatasi jarak pandang, penglihatan mengalami pemutihan. Di ujung tangga menuju kawah aku duduk. Aku rasakan perasaan mencekam, ku keluarkan sebatang rokok tanpa mempedulikan papan peringatan larangan. “Memang disini gak boleh merokok ? aku ingin tahu
apa yang terjadi bila kunyalakan sebatang rokok ? mungkinkah kawasan ini akan meledak ?” Dia hanya menjawab dengan senyuman.
Ada dua kemungkinan peraturan ini dipasang, yaitu oleh orang-orang yang mencintai alam atau orang-orang yang ketakutan.
“Coba saja nyalakan rokokmu bila kau mau,” dia menimpal perkataanku. “Boleh kupinjam korek api milikmu? karena aku akan lepas tangan bila kita berdua meledak disini, itu ulah korek apimu…..”
Setengah batang rokok tersulut aku dan dia masih duduk diujung paving block ini. Tak ada perubahan yang berarti, aku masih bisa merasakan asap dan udara dingin bercampur jadi satu dalam paru-paru. Kemudian seorang petugas berseragam melewati kita berdua sambil menggumamkan sesuatu “DILARANG MEROKOK”. Tak sedikitpun menoleh kepadaku. Dia terus berjalan ke arah kawah.
“Orang itu berkata kepadaku ? aku bertanya sembari menatap matanya.” “Kenapa seh kamu selalu
terganggu dengan perkataan orang ?” dia kembali bertanya. “aku gak terganggu oleh perkataan sambil lalu yang tidak ditujukan langsung kepadaku, namun sekarang aku tahu bahwa orang-orang penakutlah yang memasang papan peringatan ini.” Sembari bersungut ku genggam sebuah batu, lalu kulemparkan jauh…..
Air kawah pecah menimbulkan gelombang bulat kecil lalu membesar menjauhi tempat benturan.”Seberapa jauh kau bisa melempar batu ? kemudian dia melemparkan sebuah batu yang mendarat tak jauh dari tepian. “Kamu lihat tebing yang angkuh menjulang disebrang kawah sana ? batu kecil tadi mungkin berasal dari tebing itu. Tebing tinggi itu pun suatu saat bisa runtuh hingga akhirnya berserakan menjadi batuan kecil. Kupilih batu kecil ditepian kawah, karena mustahil bila harus kuhancurkan dulu bongkahan besar hanya untuk menguji sejauh mana aku bisa melempar.”
Pileuleuyan – pileuleuyan sapu nyere peugat simpai ….
Pileuleuyan – pileuleuyan paturai pateupang deui ….
Amit mundur – amit mundur amit sagala mungngaran ….
Amit mundur – amit mundur paturai pateupang deui …
Apakah kamu berani mengecewakan orang lain demi menjadi diri kamu sendiri?
Mungkinkah untuk menjadi diri sendiri tanpa perlu mengecewakan orang lain ?
Apakah menjadi diri sendiri lebih berarti daripada menyenangkan orang lain ?
Berapa banyak kekecewaan orang lain yang dibutuhkan untuk menjadi diri sendiri ?
Bila aku mampu untuk mengkompromikan keinginan untuk menjadi diri sendiri dengan ketidakinginan untuk mengecewakan orang lain, akan kupilih sintesa ini.
Nampaknya aku telah terbiasa dengan rasa kecewa, kutahu kadangkala kekecewaan menjadi katalis untuk menjadi diri sendiri sekaligus membuat orang lain kecewa.
Kebanyakan orang yang penuh kekecewaan membunuh keberaniannya untuk menjadi diri sendiri.
Satu hal yang baru aku sadari sebagai anugrah saat ini adalah; rasa kecewa. Tak ada kekecewaan yang layak kutumpahkan padamu, ku rasakan ini sebagai perwujudan cinta Dia yang kadangkala ‘campur tangan’ dalam realita dengan ketetapanNya.
Dalam setiap kekecewaan terdapat sebuah pola rumit tak terurai oleh logika, hanya dapat teraba oleh rasa; tepatnya c_i_n_t_a.
Sekarang aku sanggup untuk berkata:
“Aku tidak akan kecewa bila kau tidak merasakan perasaan yang sama, karena…..
kurasa kerinduanmu hanya tertuju kepadaNya”
