You are currently browsing the category archive for the 'cinta' category.

Nagagini menyadari bahwa dirinya dan Bima bukan merupakan satu rumpun bangsa. Nagagini adalah keturunan dewa berjenis ular Naga. Sedangkan Bima adalah kesatria keturunan manusia pada umumnya. Namun Bima bagi Nagagini adalah keistimewaan. Ada getaran khusus yang belum didapatkannya pada manusia kebanyakan. Sejak perkenalannya dengan Bima, Nagagini tidak pernah melepaskan pikirannya atas Bima. Usaha untuk menghapus bayangan Bima diangannya tak pernah berhasil, bahkan semakin jelas tergambar.

Demikian halnya yang terjadi dengan Bima. Sejak pertemuannya dengan Nagagini, Bima gelisah luar biasa. Tidak ada yang tahu apa yang dirasakan Bima. Bahkan Bima sendiri tak habis mengerti mengapa tiba-tiba saja ada perasaan aneh yang menggelayut di angannya. Selama hidup belum pernah ia merasakan gejolak perasaan yang seperti ini. Bima tidak tertarik lagi membicarakan tentang peristiwa Bale Sigala-gala, kejahatan Sengkuni dan tahta Hastinapura, kecuali pembicaraan perihal pertemuannya dengan Dewi Nagagini. Bima juga tidak mempunyai hasrat untuk makan ketika dijamu dan tidur ketika larut malam, kecuali hasratnya untuk selalu bertemu dan bersanding dengan Nagagini. Lain yang dirasakan Nagagini, Bima tidak mempedulikan bahwa dirinya dan Nagani adalah berbeda. Yang dirasakan Bima adalah bahwa Nagagini telah menawan seluruh akal budinya.

Sama-sama berangkat dari kegerahan hati yang memuncak, mereka berdua dipertemukan di sebuah taman

“Raden Bima, belum tidurkah?”

Pertanyaan Nagagini tidak membutuhkan jawaban, namun cukup mengejutkan Bima, yang tidak menyangka bahwa Nagagini berada ditaman yang sama.

“Engkau juga belum tidur Nagagini?”

Jika keduanya mau jujur pasti jawabnya sama. Karena engkaulah yang menyebabkan aku tidak dapat tidur malam ini.

“Raden Bima senangkah engkau tinggal di sini?”

“Sangat senang Nagagini”

“Sangat senang? Mengapa?”

“Karena ada kau”

“Sungguhkah Raden? Karena aku?”

“Sungguh Nagagini. aku berkata dengan hati.”

“Engkau amat jujur Raden. Aku kagum kepadamu.”

“Sungguhkah Nagagini, engkau kagum padaku?”

Sembari tersenyum Nagagini mengangguk. Dada Bima bergelora. Hatinya tumbuh seribu bunga.

“Nagagini ini negara mana?”

“Apakah kakakku Nagatamala belum menjelaskan kepadamu?”

Bima menggelengkan kepala. Selanjutnya Ngagini memberitahukan bahwa ini adalah kahyangan Saptapertala, yang berpusat di dasar bumi lapisan ke tujuh. Rajanya adalah ayah Nagagini, bernama Sang Hyang Antaboga.

“Ibuku adalah bidadari bernama Dewi Supreti. Kami sebenarnya adalah bangsa ular yang sudah menjadi dewa-dewi.”

Bima mencoba mengingat apa yang telah dilihatnya. Para perajurit dan orang-orang di Saptapertala, termasuk Nagatatmala berbau amis, berkulit kasar seperti sisik ular. Namun yang mengherankan adalah Nagagini. kulitnya kuning halus bersinar.

“Apakah Sang Hyang Antaboga berujud Dewa? atau Ular Naga?”

“Berubah-ubah. Tetapi jika ayahku marah, ia menjelma menjadi seekor naga ganas yang mengerikan. Apakah engkau takut Raden”

Tatapan mata Nagagini menyimpan kekawatiran yang amat dalam. Jika Bima takut, harapannya untuk bersanding dengan Bima lebih lama, takan pernah kesampaian.

“Aku tidak takut Nagagini”

“Benarkah Raden?”

“Aku pernah ditolong naga Aryaka penguasa Bengawan Gangga dan diberi minum Tirta Rasakundha. Setelah meminum Tirta Rasakundha, itu aku merasakan daya yang luar biasa. Walaupun aku berada di dasar Bengawan Gangga. Rasanya berada di atas daratan, napasnya lancar, badan serta pakaiannya tidak basah.”

”Ah Bima, pengalaman luar biasa.”

Hampir saja Nagagini melompat kegirangan. Pengalaman Bima dengan naga Aryaka menyiratkan bahwa perkenalan dengan Bima akan berlanjut lebih jauh.

herjaka HS

Allah, beri kami surga kecil
Rumah syhadu berhias rahmah
Di sana tergelar helai-helai sajadah
Tempat kami berpinta dan bermunajah

Allah beri kami surga kecil,
Istana mungil bertahta sakinah
Tempat kami berteduh melepas lelah
Ranjang kokoh bertabur berkah
Tempat malam-malam kami dipeluk mimpi indah

Allah, beri kami surga kecil

Beauty Unrenouned

No more beauty have I seen
Than what I see in you.
You see not what I see,
Nor think I that you shall ever,
For my eyes have seen many a thing,
But none more beautiful than what I see.

I have stared many a time at you,
Noticed all I can,
Your manerisms, you reactions.
Just to get a slight grasp of what I see,
For which the beauty you have one glance is not enough,
To fully grasp your beauty

I love watching the way the light balanced off your face,
The amazing eyes which hold so much wisdom,
The gateway to you inner being,
The place I wish to stay, for there is an amazing person behind those eyes.
A person beyond compare.

It is said that God is a creator,
But when he made you he had an inspiration.
Asif he wanted to be a poet, a sculptre and an artist.
All these traits did he use when he thought of you.
Asif to make the perfect person for me, in every respect.

No more perfect could you be for me.
No one could complete me totally without compromise
nor sacrifice as you do.
You are my life and love.
My equal and mostly my better half.

I wonder sometimes what I have done to deserve,
To gain what I have gained.
A love beyond compare,
Except for the beauty you possess and hold within you.

I am truly thankfull for all you offer and all you are,
In every respect…..

Back To Main

…..cinta bukan semata kata-kata, romansa dan peraduan belaka.

…..cinta berarti  merawat, menumbuhkan dan membesarkan harapan yang ada.

Kadang aku tersenyum melihat ibuku. Pada era teknologi tinggi dan kecanggihan perangkat terbaru membujuk kita untuk mengeksplorasi tanpa henti. ibu masih minta diajari untuk mengetikan huruf demi huruf untuk mengirim sms ke handphone adik.
“Oalaaahh…..hari gene masih gaptek !!!!!”
Tak pintar, tak gaul, tak mengikuti perkembangan zaman, tak tau lah apa yang ada didalam kepala ibu….. mungkin memang tak perlu terlalu pintar untuk bisa menjalani hidup sederhana.
Sekuno apapun cara pandang dan pola fikir ibu, beliau tetaplah ibuku yang telah bersusah payah mengandung, membesarkan dan melahirkanku ke dunia.

Teringat kata-kata bunda ketika hidung anaknya terluka.
“Don’t touch your nose, if it’s hurt !!!”
“Why…..this is mine ?”
“Your nose is my nose…..”
:) :) :) So sweet :) :) :)

All I can say is that my life is pretty plain
I like watchin’ the puddles gather rain

And all I can do is just pour some tea for two
and speak my point of view
But it’s not sane, It’s not sane

I just want someone to say to me oh, oh, oh, oh
I’ll always be there when you wake yea, yea
Ya know I’d like to keep my cheeks dry today, hey
So stay with me and I’ll have it made

And I don’t understand why I sleep all day
And I start to complain that there’s no rain

And all I can do is read a book to stay awake
And it rips my life away, but it’s a great escape
escape……escape……escape……

All I can say is that my life is pretty plain
ya don’t like my point of view
ya think I’m insane
Its not sane……it’s not sane.

I just want someone to say to me oh, oh, oh, oh
I’ll always be there when you wake yea, yea
Ya know I’d like to keep my cheeks dry today, hey
So stay with me and I’ll have it made

(I’ll have it made….. I’ll have it made
You know we’re really gonna, really gonna have it made
Gonna have it made…..ahhh,ahhh, ahhh, ahhh)

Blind Melon

aku

Tak akan pernah menagih janji…..

Saat berulang kali lantunkan puja-puji  5 waktu setiap hari

Namun,

Apakah arti sebuah janji bila tak untuk ditepati ?


sanggupkah berharap pada mimpi…..

jika kupercaya semua hal nyata

Nyatanya…..

Secepat waktu berlari

lambat laun tubuh kehilangan kendali


lalu abaikan kesucian jiwa

Bersabda demi sebuah kata…..

Cinta

Berwujud rasa dalam hati

Seringkali berubah dimensi

jadi aksi telanjangi kejujuran diri

Hingga pupuskan keyakinan religi


Mampukah intusi ini kau kelabui ?

tampak terlihat, getar terdengar, sentuh terasa,

terjadilah momentum

terciptalah lingkaran

mendesak, melesat, mempercepat

tak sadari

semua tlah terjadi


Adakah konflik dalam hati, bila diri ingkari janji ?