You are currently browsing the category archive for the 'Extravandalism' category.

Pada suatu hari ketika ketakutan menghantui diri. Takut pada sesuatu yang belum terjadi, hanya sekelebat rasa takut itu lewat melalui selasar sepi tanpa isi. Kau menguatkan keyakinan, meneguhkan niat dan kesungguhan akan sebuah kenyataan.

Cinta sesungguhnya tak mengenal rasa takut. Akan kemana aku pergi bila ternyata cinta telah bersemi, ancang-ancang kaki untuk berlari tak kuasa hentikan perjalanan untuk pulang kembali.

Hari ini aku membuka lembaran-lembaran usang, surat, sertifikat, ijazah dan transkrip nilai yang telah ditinggalkan pemiliknya. Tumpukan kertas tebal bercerita tentang seluruh pencapaian intelektual-material sejak dari bangku sekolah dasar sampai kursi nyaman di ruangan perkantoran. Tak luput dari penglihatan, sebuah peninggalan berupa kerajinan tangan sederhana dari bahan batok kelapa dihiasi cat warna-warni bertuliskan “Tidak penting berapa lama kita hidup, yang penting adalah bagaimana kita semasa hidup”

Rumah…..-meski tak pernah kau akui bahwa itu rumahmu- memberikan kesempatan untuk tumbuh ditengah kehangatan kasih sayang, keakraban dalam kekerabatan, keindahan dalam kesedihan walau terlihat sisa peristiwa pilu menggantung disudut-sudut ruang. Izinkanlah aku untuk menjadi bagian dari penghuni, menjadi pengabdi, bagi ruang dan waktu yang kadangkala terasa datang dan menghilang.

Baru kusadari ternyata ada keterkaitan antara “The Reader” dan “The curious case of benjamin button”. Kedua film ini bergerak dari aktivitas membacakan cerita. Merupakan hal yang absurd bila ternyata membacakan cerita yang telah tertulis mampu memberikan kesempatan untuk menghirup nafas kehidupan selanjutnya.

*pasti pulang coz’ filmnya lom selesai ku tonton

Secara niskala Katanya Kata kerja lebih utama daripada kata benda.

All I can say is that my life is pretty plain
I like watchin’ the puddles gather rain

And all I can do is just pour some tea for two
and speak my point of view
But it’s not sane, It’s not sane

I just want someone to say to me oh, oh, oh, oh
I’ll always be there when you wake yea, yea
Ya know I’d like to keep my cheeks dry today, hey
So stay with me and I’ll have it made

And I don’t understand why I sleep all day
And I start to complain that there’s no rain

And all I can do is read a book to stay awake
And it rips my life away, but it’s a great escape
escape……escape……escape……

All I can say is that my life is pretty plain
ya don’t like my point of view
ya think I’m insane
Its not sane……it’s not sane.

I just want someone to say to me oh, oh, oh, oh
I’ll always be there when you wake yea, yea
Ya know I’d like to keep my cheeks dry today, hey
So stay with me and I’ll have it made

(I’ll have it made….. I’ll have it made
You know we’re really gonna, really gonna have it made
Gonna have it made…..ahhh,ahhh, ahhh, ahhh)

Blind Melon

The signal is subtle
We pass just close enough to touch
No questions, no answers
We know by now to say enough
With only simple words
With only subtle turns
The things we feel alone for one another

There is a secret that we keep
I won’t sleep if you won’t sleep
Because tonight may be the last chance we’ll be given
We are compelled to do what we must do
We are compelled to do what we have been forbidden

So I won’t sleep if you won’t sleep tonight

Our act of defiance
We keep this secret in our blood
No paper or letters
We pass just close enough to touch
We love in secret names
We hide within our veins
The things that keep us bound to one another

There is a secret that we keep
I won’t sleep if you won’t sleep
Because tonight may be the last chance we’ll be given
We are compelled to do what we must do
We are compelled to do what we have been forbidden

Until the last resilient hope
Is frozen deep inside my bones
And this broken fate has claimed me
And my memories for its own
Your name is pounding through my veins
Can’t you hear how it is sung?
And I can taste you in my mouth
Before the words escape my lungs
And I’ll whisper only once…

There is a secret that we keep
I won’t sleep if you won’t sleep
Because tonight may be the last chance we’ll be given
We are compelled to do what we have to
We are compelled to do what we have been forbidden

‘Cause you will be somebody’s girl
And you will keep each other warm
But tonight I am feeling cold

          

            Sulit sekali berkonsentrasi bila bunyi mendengung masih terdengar diatas kepalaku. Suara mesin dan putaran baling-baling itu bergemuruh, membuyarkan suara lain yang sebenarnya ingin kudengar. Aku memejamkan mata, menajamkan telinga, mencari tahu apa yang menarik untuk didengar dari sebuah percakapan yang terjadi tepat dibelakang punggungku. Samar-samar…..namun masih tetap terdengar, dari sekedar basa-basi sampai diskusi tingkat tinggi. Seperti yang terjadi saat ini.

 

            “ Lho sekarang kan tren nya gitu mbak, semua project dikerjakan sendiri! Sisanya kita cari relawan dan pekerja paruh waktu, biar bisa lebih efektif dan efisien”

            “Oooowhh, jadi maksudmu outsource, gitu ? kita cari orang yang mumpuni untuk melakukan pekerjaan ini, sesaat setelah beres, kita kasih fee sesuai dengan kebutuhannya! Itupun tergantung kerelaan kita kan ? Hi..hi..hi”

            “Ya, persis seperti itu, semua orang senang, semua kebutuhan terpenuhi, semuanya selesai tepat pada waktunya”

            “Oke deh, kita pun gak perlu repot mikirin keinginan mereka, harusnya mereka lebih banyak berterima kasih karena kita kasih kerjaan!”

            “Jelas gak perlu pake macem-macem peraturan. Yang penting pekerjaan kita sendiri selesai, lalu kita terima pujian”

 

            Aku merubah posisi tidurku dari menelungkup lalu terlentang. Masih tertidur diatas kasur empuk yang tergeletak berseberangan satu sama lainnya. Satu di sayap kiri dan satu lagi berada di sayap kanan tempat dimana sekarang ku berbaring membelakangi ruang kerja. Panasnya udara disini, apakah karena sirkulasi yang tidak lancar, atau karena letak geografis kota ini lebih rendah, ditambah polusi yang tak pernah berhenti

Sayup-sayup terdengar alunan musik diantara putaran kincir angin. Musik memang telah jadi bagian dari hidup, bunyi-bunyian tak pernah berhenti berputar “24hours Live Music”. Tak boleh ada keheningan, karena sepi mencekam bisa mencekik kesendirian. Kadangkala terbersit sepenggal pertanyaan, apakah satu persatu lagu dari playlist yang dikumandangkan speaker masih bisa dinikmati oleh pendengaran.

 

“Jadi sekarang gimana bu ? saya bingung dengan urusan laporan ini? Apa jadinya klo ternyata angka yang tertera tidak sesuai dengan kenyataan yang ada ?”

“Lho, kok kamu tanya saya sih ? kemarin itu yang melakukan kegiatan kan kamu dan teman-teman. Kamu lebih tahu apa yang harus dikerjakan dengan laporan itu!”

“Maaf bu, memang saya dan teman-teman yang mengatur berlangsungnya kegiatan disana, tapi sekarang masalahnya adalah tidak ada kesesuaian antara jumlah angka yang telah dihabiskan dan jumlah angka yang nanti akan mencair. Lagipula…saya baru pertama kali mengurus masalah laporan keuangan, saya masih bingung, kok jadi gini ? Apa yang terjadi bila saya lakukan kesalahan berkaitan dengan angka-angka ini, apakah saya harus bertanggung jawab ?”

 

Tell me honestly…..if u still in love with me looking into my eyes…..honestly” Tiba-tiba lyric lagu itu terdengar berteriak, ku tahu bukan dari Mr.speaker diatas meja sana –pernah kucari dalam deretan koleksi “harem scarem” ga ada disana–, tapi dari radio yang ada dalam kepalaku. Sang ibu dalam percakapan rupanya sedang asyik sendirian, tak mempedulikan rentetan pertanyaan yang diajukan. Kudengar hanya ketukan jemarinya lincah menari diatas kotak huruf-huruf yang tersusun rapi.

 

“Lagipula bagaimana dengan bukti rincian angka yang telah dikeluarkan bila memang itu tak ada ? saya tidak bisa membuatnya, lalu siapa yang akan menandatangani nya ?”

 

Aku tersenyum dalam tidurku. Senyum dengan bibir terkatup tertarik oleh syaraf dan otot sekitar wajah. Senyum tanpa perlu kumengerti secara medis, bagaimana mekanisme tubuh (khususnya bibir) sehingga bisa tersenyum simpul, tersenyum sinis, tersenyum genit, tersenyum seringai, tersenyum menyungging, dan berbagai jenis nama senyum lainnya yang tergambar bibir. Awalan (ter-) umumnya bermakna; tidak sengaja, atau secara kebetulan saja. Tapi tentu tak penting membicarakan bibir saat ini, karena disini bibir seringkali tidak kugunakan sebagai alat bantu artikulasi suara. %<ly f%@ @!#<#’$ L!p$ :P

Lutju. Satu kata ejaan lama, aku kutip darimu. Sebuah kata tanpa kategori arti, kata ini mewakili sebuah ekspresi yang tak terdefinisi. Lutju. Saat rasakan kehadiran penyamun disarang perempuan. Berartinya keberada(b)an diriku dalam perjalananmu dan teman-teman, patut kusyukuri saat ini. Kepada Dia tentunya, kepada mu itu pasti; sebagai tanda terima kasihku, juga kepada penghuni dan teman-teman yang telah menerimaku.

Menyenangkan masih bisa tiduran disayap kanan. Mendengar intonasi suara, membaca gerak bibir ketika pemberi dan penerima lincah beradu argumen, bersama saling mengalahkan dan memberikan kemenangan, kehangatan terasa saat merambatnya frekuensi energi dari satu indera ke indera lainnya. Ternyata nguping adalah aktivitas yang menyebabkan kecanduan, meski makna nguping sendiri sangatlah tidak menyenangkan. Secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi atau bahkan sampai berpura-pura hanya untuk mendengarkan dinamika suara manusia. Tidak sia-sia rupanya daun telinga tercipta, untuk menangkap suara dari seluruh sumber suara. Tugas memilah dan memilih suara sebaiknya kuserahkan pada hati sebagai sang pengendali.

Aku tertawa ketika teringat pada sebuah tanaman yang dahulu pernah tumbuh di halaman rumah. Setiap orang menyebutnya Kuping Gajah, ukuran nya agak kecil, tidak terlalu tinggi, tapi daunnya besar…..sebesar daun telinga gajah. Mungkin sebaiknya kebiasaan nguping sembarangan harus mulai dikurangi. Gawat kalau pemilik suara tahu, lalu nguping dianggap sebagai kegiatan mencuri informasi dan melanggar privasi. Akhirnya nanti telinga disumpahi, jangan sampai telinga ini berubah membesar seperti kuping gajah ……

 

“Apa saya boleh tahu tentang hal-hal yang dibicarakan tadi, bu ?”

“Ada yang bisa ku bantu mbak ?”

 

Setelah aku bangun beranjak dari tidurku, beberapa pertanyaan tadi ku lontarkan (sambil pasang wajah lugu pura-pura tidak tahu).

Jika tidak ada yang ideal di muka bumi ini maka bumi adalah tempat yang tidak ideal untuk dihuni. Terfikirkah oleh para penghuni untuk kemudian menanam hal-hal ideal, sehingga akhirnya tercipta ladang yang gemah ripah loh jenawi untuk dinikmati bersama. Salah satu hal ituadalah kejujuran, sekali lagi mari pertanyakan tentang sebuah sikap yaitu; jujur, lawan kata dari berbohong atau bersikap bohong.

Mengapa manusia memilih sikap jujur ? Mengapa kejujuran ternyata sangat sulit diterapkan ? Apa akibatnya bila sikap jujur dan bohong bercampur baur hingga menimbulkan ketidakjelasan sikap, atau bahkan mengakibatkan sikap mendua ? Adakah keterkaitan antara jujur dengan harapan dan kesetiaan ?

Jujur bagi sebagian besar orang adalah sebuah sikap apa adanya, berterus terang, mengungkapkan sesuai dengan apa yang terjadi tanpa bermaksud menutupi. Sebuah pilihan sikap tentu didasari oleh berbagai macam sebab seperti situasi dan kondisi, keinginan, kebutuhan,kepentingan, keyakinan. Kemudian pilihan sikap ini dipertimbangkan dengan akibat yang akan terjadi pada variabel tadi setelah melalui sebuah proses pemikiran atau pertimbangan yang singkat atau lambat. Tentu setiap individu memiliki kecepatan yang berbeda dalam membuat keputusan. Ada yang perlu melewati beberapa tahap pembicaraan, ada yang merasa harus melalui instrumen intuisi dan kata hati,ada perasaan untuk mengendapkan dan mendiamkan sejenak sebelum mengambil sikap, dan ada pula yang otomatis memutuskan secepat kilat tanpa perlu memperhitungkan akibat yang terjadi–karena tidak ada kepastian akan apa yang terjadi nanti– atau karena banyak persoalan lain menanti untuk sesegera mungkin diputuskan.

Dalam kehidupan dimana satu pihak merasa lebih berhak atas sebuah kepemilikan dan pemanfaatan sumber daya dibanding pihak lainnya, saat sebagian besar orang bergelut untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari namun sebagian kecil orang setiap hari bergelimang dengan kemewahan hidup tanpa merasakan penderitaan sebagian besar orang, tanpa memiliki keberpihakan kepada sebagian besar orang, atau bahkan tanpa mempedulikan keberadaan sebagian besar orang….perlukah kejujuran diterapkan dalam situasi dan kondisi seperti ini ?

Perlu, sangat perlu…..itu menurutku. Jujurlah dengan hatimu yang setiap saat menghayati atau dengan perutmu yang kau isi setiap hari. Jujur pada siapa seharusnya kita bersikap jujur, kepada sebagian besar orang yang hidup apa adanya dan yakin bahwa Dia akan mencukupi kebutuhan sepanjang usia hidupya, atau kepada sebagian kecil orang yang senantiasa mengada-ngada dan merasakan ketakutan karena menurutnya kekurangan berbanding lurus dengan kesengsaraaan. Dan ternyata jujur memiliki tempatnya sendiri, tanyakanlah dimana dia akan berdiri.

Perkara kejujuran yang sengaja bercampur dengan sedikit kebohongan, atau kejujuran yang disamarkan dengan kebohongan, atau kejujuran murni tanpa sedikitpun kebohongan seringkali disalah artikan sebagai sebuah ketidakjelasan sikap (tidak memiliki sikap tegas untuk berkata jujur dalam situasi dan kondisi apapun). Setiap orang cerdas tentu memahami bahwa setiap situasi dan kondisi memiliki keunikan tersendiri dan harus dihadapi dengan kelenturan sikap tanpa harus mengurangi esensi kecenderungan, untuk bersikap jujur atau bohong. Adakalanya kecerdasan sebagai sebuah Pemberian tersendiri, membiarkan tak melakukan apapun selain menyalakan tombol automatic pilot. Kemudian biarkanlah Sang Pilot mengambil alih kemudi, menggerakan mesin, baling-baling dan sayap, untuk melaju kearah mana pesawat akan mendarat (orang-orang aneh…..:P)

Jadi apa yang disebut sikap mendua, memilih dua sikap yang berbeda (dualisme) atau melebur dua sikap menjadi satu ?

Ada sebuah harapan ketika kejujuran merupakan salah satu nilai dalam hubungan antar individu dalam sebuah komunitas, mungkin akan terjalin sebentuk kesetiaan berupa rasa solidaritas (senasib sepenanggungan). Sehingga akhirnya kesatuan, keutuhan dan kebersamaan tetap bisa dipertahankan dalam kerangka cinta padaNya Pemilik alam semesta, dan cinta pada sesama manusia sebagai penghuni alam semesta.

It’s not about waiting for the storm to be over. It’s about learning how to dance in the rain


This fall I will make myself a promise; to go out into the rain more often, put my head back and feel the raindrops on my face. And remember to dance a little.


Tadi malem didalam dan luar panas banget, heran…..besok paginya basah.
Tadi siang hujan turun,jalanan becek, jemuran basah gak sempat diangkat.
Tadi sore didalam dan luar adem banget.

Hari ini dapat tips untuk terapi panas dalam:
“Pakailah celana setengah kering biar gak basah kuyup”