You are currently browsing the category archive for the 'Why?' category.
The Alchemist had told him,
“Where your treasure is, there also will be your heart”
His heart whispered,
“Be aware of the place where you are brought to tears. That’s where i am , and that’s where your treasure is”
The Alchemist had said,
“What good is money to you if you’re going to die? it’s not often that money can save someone’s life”
…..The man who appeared to be the leader of the group spoke to one of the others: “Leave him. He doesn’t have anything else. He must stolen this gold.”
The boy fell to the sand, nearly unconscious. The leader shook him and said, “We’re leaving.”
But before they left, he came back to the boy and said, “You’re not going to die. You’ll live, and you’ll learn that a man shouldn’t be so stupid. Two years ago, right here on this spot, I had a reccurent dream, too. I dreamed that I should travel to the fields of Spain and look for ruined church where the shepherds and their sheep slept. In my dream, there was a sycamore growing out of the ruins of the sacristy, and I was told that, if I dug at the roots od the sycamore, I would find a hidden treasure. But I’m not so stupid as to cross an entire desert just because of a recurrent dream.”
The boy stood up shakily, and looked once more at the Pyramids. They seemed to laugh at him, and he laughed back, his heart bursting with joy. Because now he knew where his treasure was.
Nagagini menyadari bahwa dirinya dan Bima bukan merupakan satu rumpun bangsa. Nagagini adalah keturunan dewa berjenis ular Naga. Sedangkan Bima adalah kesatria keturunan manusia pada umumnya. Namun Bima bagi Nagagini adalah keistimewaan. Ada getaran khusus yang belum didapatkannya pada manusia kebanyakan. Sejak perkenalannya dengan Bima, Nagagini tidak pernah melepaskan pikirannya atas Bima. Usaha untuk menghapus bayangan Bima diangannya tak pernah berhasil, bahkan semakin jelas tergambar.
Demikian halnya yang terjadi dengan Bima. Sejak pertemuannya dengan Nagagini, Bima gelisah luar biasa. Tidak ada yang tahu apa yang dirasakan Bima. Bahkan Bima sendiri tak habis mengerti mengapa tiba-tiba saja ada perasaan aneh yang menggelayut di angannya. Selama hidup belum pernah ia merasakan gejolak perasaan yang seperti ini. Bima tidak tertarik lagi membicarakan tentang peristiwa Bale Sigala-gala, kejahatan Sengkuni dan tahta Hastinapura, kecuali pembicaraan perihal pertemuannya dengan Dewi Nagagini. Bima juga tidak mempunyai hasrat untuk makan ketika dijamu dan tidur ketika larut malam, kecuali hasratnya untuk selalu bertemu dan bersanding dengan Nagagini. Lain yang dirasakan Nagagini, Bima tidak mempedulikan bahwa dirinya dan Nagani adalah berbeda. Yang dirasakan Bima adalah bahwa Nagagini telah menawan seluruh akal budinya.
Sama-sama berangkat dari kegerahan hati yang memuncak, mereka berdua dipertemukan di sebuah taman
“Raden Bima, belum tidurkah?”
Pertanyaan Nagagini tidak membutuhkan jawaban, namun cukup mengejutkan Bima, yang tidak menyangka bahwa Nagagini berada ditaman yang sama.
“Engkau juga belum tidur Nagagini?”
Jika keduanya mau jujur pasti jawabnya sama. Karena engkaulah yang menyebabkan aku tidak dapat tidur malam ini.
“Raden Bima senangkah engkau tinggal di sini?”
“Sangat senang Nagagini”
“Sangat senang? Mengapa?”
“Karena ada kau”
“Sungguhkah Raden? Karena aku?”
“Sungguh Nagagini. aku berkata dengan hati.”
“Engkau amat jujur Raden. Aku kagum kepadamu.”
“Sungguhkah Nagagini, engkau kagum padaku?”
Sembari tersenyum Nagagini mengangguk. Dada Bima bergelora. Hatinya tumbuh seribu bunga.
“Nagagini ini negara mana?”
“Apakah kakakku Nagatamala belum menjelaskan kepadamu?”
Bima menggelengkan kepala. Selanjutnya Ngagini memberitahukan bahwa ini adalah kahyangan Saptapertala, yang berpusat di dasar bumi lapisan ke tujuh. Rajanya adalah ayah Nagagini, bernama Sang Hyang Antaboga.
“Ibuku adalah bidadari bernama Dewi Supreti. Kami sebenarnya adalah bangsa ular yang sudah menjadi dewa-dewi.”
Bima mencoba mengingat apa yang telah dilihatnya. Para perajurit dan orang-orang di Saptapertala, termasuk Nagatatmala berbau amis, berkulit kasar seperti sisik ular. Namun yang mengherankan adalah Nagagini. kulitnya kuning halus bersinar.
“Apakah Sang Hyang Antaboga berujud Dewa? atau Ular Naga?”
“Berubah-ubah. Tetapi jika ayahku marah, ia menjelma menjadi seekor naga ganas yang mengerikan. Apakah engkau takut Raden”
Tatapan mata Nagagini menyimpan kekawatiran yang amat dalam. Jika Bima takut, harapannya untuk bersanding dengan Bima lebih lama, takan pernah kesampaian.
“Aku tidak takut Nagagini”
“Benarkah Raden?”
“Aku pernah ditolong naga Aryaka penguasa Bengawan Gangga dan diberi minum Tirta Rasakundha. Setelah meminum Tirta Rasakundha, itu aku merasakan daya yang luar biasa. Walaupun aku berada di dasar Bengawan Gangga. Rasanya berada di atas daratan, napasnya lancar, badan serta pakaiannya tidak basah.”
”Ah Bima, pengalaman luar biasa.”
Hampir saja Nagagini melompat kegirangan. Pengalaman Bima dengan naga Aryaka menyiratkan bahwa perkenalan dengan Bima akan berlanjut lebih jauh.
herjaka HS
Allah, beri kami surga kecil
Rumah syhadu berhias rahmah
Di sana tergelar helai-helai sajadah
Tempat kami berpinta dan bermunajah
Allah beri kami surga kecil,
Istana mungil bertahta sakinah
Tempat kami berteduh melepas lelah
Ranjang kokoh bertabur berkah
Tempat malam-malam kami dipeluk mimpi indah
Allah, beri kami surga kecil
aku
Tak akan pernah menagih janji…..
Saat berulang kali lantunkan puja-puji 5 waktu setiap hari
Namun,
Apakah arti sebuah janji bila tak untuk ditepati ?
sanggupkah berharap pada mimpi…..
jika kupercaya semua hal nyata
Nyatanya…..
Secepat waktu berlari
lambat laun tubuh kehilangan kendali
lalu abaikan kesucian jiwa
Bersabda demi sebuah kata…..
Cinta
Berwujud rasa dalam hati
Seringkali berubah dimensi
jadi aksi telanjangi kejujuran diri
Hingga pupuskan keyakinan religi
Mampukah intusi ini kau kelabui ?
tampak terlihat, getar terdengar, sentuh terasa,
terjadilah momentum
terciptalah lingkaran
mendesak, melesat, mempercepat
tak sadari
semua tlah terjadi
Adakah konflik dalam hati, bila diri ingkari janji ?
Jika tidak ada yang ideal di muka bumi ini maka bumi adalah tempat yang tidak ideal untuk dihuni. Terfikirkah oleh para penghuni untuk kemudian menanam hal-hal ideal, sehingga akhirnya tercipta ladang yang gemah ripah loh jenawi untuk dinikmati bersama. Salah satu hal ituadalah kejujuran, sekali lagi mari pertanyakan tentang sebuah sikap yaitu; jujur, lawan kata dari berbohong atau bersikap bohong.
Mengapa manusia memilih sikap jujur ? Mengapa kejujuran ternyata sangat sulit diterapkan ? Apa akibatnya bila sikap jujur dan bohong bercampur baur hingga menimbulkan ketidakjelasan sikap, atau bahkan mengakibatkan sikap mendua ? Adakah keterkaitan antara jujur dengan harapan dan kesetiaan ?
Jujur bagi sebagian besar orang adalah sebuah sikap apa adanya, berterus terang, mengungkapkan sesuai dengan apa yang terjadi tanpa bermaksud menutupi. Sebuah pilihan sikap tentu didasari oleh berbagai macam sebab seperti situasi dan kondisi, keinginan, kebutuhan,kepentingan, keyakinan. Kemudian pilihan sikap ini dipertimbangkan dengan akibat yang akan terjadi pada variabel tadi setelah melalui sebuah proses pemikiran atau pertimbangan yang singkat atau lambat. Tentu setiap individu memiliki kecepatan yang berbeda dalam membuat keputusan. Ada yang perlu melewati beberapa tahap pembicaraan, ada yang merasa harus melalui instrumen intuisi dan kata hati,ada perasaan untuk mengendapkan dan mendiamkan sejenak sebelum mengambil sikap, dan ada pula yang otomatis memutuskan secepat kilat tanpa perlu memperhitungkan akibat yang terjadi–karena tidak ada kepastian akan apa yang terjadi nanti– atau karena banyak persoalan lain menanti untuk sesegera mungkin diputuskan.
Dalam kehidupan dimana satu pihak merasa lebih berhak atas sebuah kepemilikan dan pemanfaatan sumber daya dibanding pihak lainnya, saat sebagian besar orang bergelut untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari namun sebagian kecil orang setiap hari bergelimang dengan kemewahan hidup tanpa merasakan penderitaan sebagian besar orang, tanpa memiliki keberpihakan kepada sebagian besar orang, atau bahkan tanpa mempedulikan keberadaan sebagian besar orang….perlukah kejujuran diterapkan dalam situasi dan kondisi seperti ini ?
Perlu, sangat perlu…..itu menurutku. Jujurlah dengan hatimu yang setiap saat menghayati atau dengan perutmu yang kau isi setiap hari. Jujur pada siapa seharusnya kita bersikap jujur, kepada sebagian besar orang yang hidup apa adanya dan yakin bahwa Dia akan mencukupi kebutuhan sepanjang usia hidupya, atau kepada sebagian kecil orang yang senantiasa mengada-ngada dan merasakan ketakutan karena menurutnya kekurangan berbanding lurus dengan kesengsaraaan. Dan ternyata jujur memiliki tempatnya sendiri, tanyakanlah dimana dia akan berdiri.
Perkara kejujuran yang sengaja bercampur dengan sedikit kebohongan, atau kejujuran yang disamarkan dengan kebohongan, atau kejujuran murni tanpa sedikitpun kebohongan seringkali disalah artikan sebagai sebuah ketidakjelasan sikap (tidak memiliki sikap tegas untuk berkata jujur dalam situasi dan kondisi apapun). Setiap orang cerdas tentu memahami bahwa setiap situasi dan kondisi memiliki keunikan tersendiri dan harus dihadapi dengan kelenturan sikap tanpa harus mengurangi esensi kecenderungan, untuk bersikap jujur atau bohong. Adakalanya kecerdasan sebagai sebuah Pemberian tersendiri, membiarkan tak melakukan apapun selain menyalakan tombol automatic pilot. Kemudian biarkanlah Sang Pilot mengambil alih kemudi, menggerakan mesin, baling-baling dan sayap, untuk melaju kearah mana pesawat akan mendarat (orang-orang aneh…..:P)
Jadi apa yang disebut sikap mendua, memilih dua sikap yang berbeda (dualisme) atau melebur dua sikap menjadi satu ?
Ada sebuah harapan ketika kejujuran merupakan salah satu nilai dalam hubungan antar individu dalam sebuah komunitas, mungkin akan terjalin sebentuk kesetiaan berupa rasa solidaritas (senasib sepenanggungan). Sehingga akhirnya kesatuan, keutuhan dan kebersamaan tetap bisa dipertahankan dalam kerangka cinta padaNya Pemilik alam semesta, dan cinta pada sesama manusia sebagai penghuni alam semesta.
Kadangkala lebih tenang berjalan dengan dompet berisi uang dan kartu ATM terselip didalamnya, tidak ketinggalan telepon genggam terisi penuh pulsa dan seluruh kontak untuk di hubungi,
daripada berlari dengan selembar uang kertas tanpa disertai alat komunikasi canggih selain keyakinan harapan dan cinta di hati.
“Sekarang zaman canggih mas !!! nanyain kabar apa bisa tulis kata-kata sms. Dulu, saya mau ngobrol sama saudara dikampung aja harus jalan kaki dulu ke wartel, terus mesti betah duduk lama dalam box telepon”
(Tukang sate)
(!) kamu kan terasing selamanya can, bila ga kau rubah sikapmu….
Kamu tidak pernah bisa menghargai siapapun
<^> Yeah…..Im
<^> U know lah bila hidup adalah permainan dan senda gurau disanalah gamers berada (ROLF)
(!) Kamu selalu membangun sesuatu lalu menghancurkan nya secepat yang kau mau.
Itulah kesalahanmu kawan !!!
Mengapa selalu melarikan diri bila tak sesuai kata hati ?
<^> Maklum lah ilmu struktur beton dan baja tak sempat ku pelajari sampai tuntas…..
Akibatnya bagini…..ada ketidakmampuan dalam bangunan diri untuk menahan goncangan itu
Yang kubicarakan diriku, bukan semua urusan dan kepentingan diantara kita.
(!) Kamu ga pernah bisa di percaya untuk menuntaskan semua hal.
Ku jamin semua orang tidak akan mempercayaimu.
Kau fikir bahwa hidup itu bukan merupakan sebuah jaringan nyata ?
Kau fikir bisa hidup dalam dunia maya, dimana kau menikmati pekerjaan konyolmu.
Kau akan kehilangan kontakmu dengan semua teman.
<^> Ku fikir mereka tak lagi membutuhkan ku.
Mereka bisa mengurus semua sendiri tanpa adanya diriku
Aku telah kehilangan eksistensi sejak dulu.
Dan aku tidak membutuhkan itu.
(!) Lalu apa yang akan kau kerjakan nanti ?
Kau tak lebih dari seorang pengangguran tanpa ijazah, mo jadi ikut-ikutan jadi sampah.
<^> Ok gpp. Bila itu memang layak untuk ku. Setidaknya aku masih berguna bagi para pemulung.
Toh sejak dulu aku memang tidak memiliki perkerjaan selain kuli bangunan serabutan.
Aku sadari sejak dulu bahwa hidupku tak lagi berguna, tidak menghasilkan apa-apa.
Namun setidaknya aku bahagia.
(!) Sayangnya kamu tidak menyadari apa yang kau perbuat can…..
Apa sebenarnya keinginan mu ?
<^> Seringkali masih harus kutanyakan itu pada diriku, namun satu hal yang telah kusadari…..
Tempatku bukan disini. Cukup sudah semua kerumitan yang kulalui.
Aku hanya ingin menyederhanakan semuanya.
Kedatangan dan kepergian bukan sesuatu yang patut di perdebatkan, hanya menyita waktu bila
semua harus selalu dipermasalahkan. Banyak potensi yang lebih layak untuk dikembangkan.
(!) Aku heran can, kenapa tiba-tiba kau menghilang karena alasan penghamburan dan pemborosan.
Kau pergi tak mau lagi peduli karena alasan sepele.
Semua membutuhkan lobby dan negoisasi, untuk itulah anggaran pengeluaran terbesar.
Yang menjadikan masalah ini pribadi adalah ketidakhadiranmu dlm pernikahan.
Itu yang sangat kusesali, karena hanya sekali seumur hidupku.
<^> Aku tahu bahwa hidup harus bisa dinikmati.
Tapi apa yang akan kunikmati bila tak sesuai kata hati.
Aku tidak selalu setuju akan semua kebiasaan itu, jujur itu bukan hidupku dan bukan duniaku.
Aku tidak bisa menikmati semua, bila semua orang tidak dapat menikmatinya.
Here iam….. bila kau tahu
Kadangkala aku tak bisa menentukan pilihan meskipun soal makanan.
Kau tahu kenapa…..
Karena hanya ada satu jenis teman makan selain nasi putih dalam piringku, apa yang harus kupilih ?
(!) Whatever !!! terserah apa mau mu.
Yang jelas kau akan menyesali semua ini.
Pergilah kemana pun kau mau, namun suatu saat kau pasti akan membutuhkan ku.
<^> Akhir-akhir ini Hidungku selalu mengeluarkan darah.
Yeah…..panas dalam rupanya.
Dingin sekaligus panas, tapi bukan panas dingin.
Badanku panas namun pendengaranku dingin.
Sudah lama telfon tidak berdering karena semua berangsur-angsur menghidari. Setidaknya ku msh bs jual dikemudian hari untuk menambal kekurangan sekaligus mengurangi pengeluaran dlm hidupku.
Mungkin suatu saat ku buang saja semua cita-cita dan keinginanku.
Pertanyaan terbesar yang muncul adalah…..
Masihkan layak kah aku hidup tanpa semua itu ???
Tolong yakinkan dengan jawabanMu saat coba untuk mengenal dan mencintaiMu.
Seharusnya aku berhenti dari pelarian ini karena…..
menghilangkan kepedihan tak akan usai dengan sebuah tulisan.
Melakukan kepergian bukanlah awal dari tujuan.
Adanya diriku hanyalah sebuah opera dari kesunyian kehidupan.
Aku tercipta dari proses pembersihan kotoran, menyisakan buih yang tak kunjung terbang mengudara.
Hukum sebab akibat selalu berlaku dimanapun dan kapanpun. Bagi sebagian orang yang logic dalam berfikir, dalam berbicara dan bertindak, hukum ini selalu dibubuhkan ketika berfikir, berbicara dan bertindak. Namun sebenarnya dari manakah hukum ini berasal ? Dari manakah kaidah-kaidah awal hukum ini tercetus? jujur saja kupertanyakan hal ini, karena mulai dari ilmu eksakta, sosial, bahasa dan budaya bahkan kadangkala agama menggunakan landasan ini. Misalnya teori-teori Newton; aksi-reaksi, marx; tesis-antitesis, bahasa; klimaks-antiklimas, budaya; modern-postmodern, agama; karma.
Kerangka berfikir ini tak ayal telah menjadi pattern bagi penganutnya. Dalam konteks hukum karma, kebaikan akan dibalas dengan kebaikan dan kejahatan akan di balas dengan kejahatan pula. Apakah memang harus seperti itu? dan apakah hal itu pasti terjadi? Bila memang ini merupakan sebuah hukum dan telah dibuktikan secara empiris, adakah kemungkinan akibat yang kita terima tak terkait dengan sebab yang kita lakukan?
Pernah kubaca dalam sebuah novel~the zahir~, si Penulis menggunakan istilah “Bank Budi” untuk menggambarkan hal ini. Adakalanya dia perlu menginvestasikan/menyetorkan budi kepada bank ini, hingga suatu saat dia bisa menarik budi ini kembali ketika dibutuhkan. Semacam transaksi uang yang lazim kita lakukan ke Bank. Hanya…disini objeknya budi. Yups……hingga terlahirlah ungkapan “tidak ada makan siang gratis”, “ada udang di balik batu”, yang artinya kurang lebih ada sebuah kepentingan dibalik semua tindakan baik seseorang kepada orang lain.
Mungkin hukum ini dianut oleh sebagian besar orang-orang beragama dan agama memang mengajarkan hukum ini. Mungkin ketika semua agama menganut hukum ini, akhirnya agama hanyalah sebuah kepanjangan tangan dari kepentingan Sang Penguasa. Mungkin ketika semua ilmu berujung pangkal pada Sang Maha Tahu, hukum ini merupakan bagian dari AjaranNya. Mungkinkah Dia menciptakan manusia hanya untuk menciptakan berbagai kepentingan bagi diriNya, dan suatu saat Dia menarik investasiNya untuk menagih semua Janji-janji yang manusia ucapkan dengan penuh keyakinan Pada DiriNya.
Karena kebodohan dan keterbatasanku sebagai manusia maka aku bertanya.
Aku hanya ingin mencari dimana letak esensi dari semua ini.
Aku tidak ragu akan eksistensiNya.
Aku yakin Dia lah Esensi (satu-satunya) dari semua eksistensi.
Aku yakin Dia tidak memiliki motivasi apapun akan penciptaan diriku, karena….. Dia Maha Kaya dan Dia Tidak Tergantung Pada sesuatu pun diluar DiriNya.
Dia hanya ingin mengajarkan padaku untuk lebih mengenalNya dan mencintaiNya.






